Sabtu, 06 Desember 2014

Empati Tamako
















Mereka akan berkata
kesedihanmu akan pergi
terhempas angin selatan
yang penuh debu
terbawa sampai
ufuk timur, terjauh...


Dan kau akan terdiam
bertanya dalam hati
kapan ini akan
berakhir dan terbawa sampai
ufuk timur, terjauh...

Dan kau pernah melangkahkan kaki
dan sejengkal sadar
dan melantunkan,


terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya


*Untuk yang selalu membuat jiwaku limbung, sekali ini saja aku tak ingin merindu!
Kantor Berita Antara, Pasar Baru 
22 November 2014, 3.01 PM

*latepost

Senin, 24 November 2014

Seminggu yang Melankolis

Tepat seminggu lalu Ayahku ulang tahun. Biasanya jam 12 aku akan membangunkannya, mengatakan ucapan selamat ulang tahun, mencium tangannya, memeluknya dan membiarkan ia mencium kedua pipiku dengan iler yang masih menempel di pipinya. Aku akan agak menghindar dan ayahku ya tertawa saja.

Sejak ayah sakit tiga tahunan yang lalu kami jarang beli kue ulang tahun. Kue mengandung banyak kolesterol dan lemak jahat , ia juga tak doyan-doyan amat kue. Jadi, dari jauh hari ayah akan bilang untuk menghadiahi dia pulsa saja. Kadang kami kesal, "Kok pulsa sih yah?" Begitu ujarku. Ternyata di rumah membosankan. Hanya ada tv, anak-anaknya sibuk semua, pulang selalu larut malam . Ia hanya menghibur dirinya dengan ibadah, nonton tv, mendengar radio, kadang sore melihat anak-anak kecil main di depan rumah, dan menelpon teman-temannya kadang sampai pulsanya habis. Menelpon kami juga di waktu-waktu yang tidak tepat. " Apa sih ayah, ntar ah telponnya," kataku kalau terima telponnya dia saat sedang sibuk melihat lukisan-lukisan di kantor.

Sudah seminggu aku melankolia sekali, rindu benar padanya. Jam 2 saat masih menonton tv aku rindu ayah keluar dari kamar sambil dadah-dadah gak jelas ke arahku. Ia ke kamar mandi ambil wudhu untuk solat tahajud. Paling romantis kalau ingat aku harus pulang naik ojek ke rumah tapi gak bawa uang, karena ayah mengantuk dan enggan bangun hanya karena aku pulang maka ia menaruh boneka beruang pink raksasa seukuran 3/4 tubuhku di depan pintu rumah dan menaruh uang 5 ribu di atas kepala beruang. Uang itu aku pakai bayar ojek, kalau yang ini aku sampai senyum-senyum sendiri.

Ayahku waktu muda sampai sebelum sakit adalah laki-laki tinggi besar yang gagah yang selalu menonjol dimanapun dia berada. Keberaniannya dalam berinovasi apapun selalu memukau orang-orang di sekitarnya. Ia dihormati banyak orang. Saat sakit, ia kehilangan semuanya, begitu rapuh. Tapi, kalau dini hari tiba2 mati lampu aku tetap meneriakkan namanya untuk berlindung. Tidak seperti disaat kecil, ayah akan menghampiriku dan memelukku. Ayah cuma diam saja karena kakinya lumpuh sebelah karena stroke, ia hanya berkata " Kakak , kakak , sini ke kamar ayah aja!" Lalu aku loncat dan tidur dibalik punggung ayahku. Ayah akan memeluku seperti waktu kecil.

Aku kelelahan baca doa seminggu ini saking sering rindunya sama ayah. Setiap rindu katanya aku harus kirim doa.
Suatu hari, saat aku sedang patah hati aku duduk di meja makan berdua dengannya lalu tiba-tiba aku menangis. Ayah sambil minum teh cuma bilang " Kamu tuh baru kehilangan orang yang mungkin besok masih bisa dihubungi, coba ayah kehilangan bunda yang udah gak bisa diajak ngobrol lagi , gak keliatan lagi fisiknya, kamu masih beruntung nak.." Sumpah, aku terdiam saat itu bisa-bisanya menangis padahal ayah jauh lebih sedih ditinggal bunda yang sudah 23 tahun bersama, yang hanya bersama bunda ia bisa berdiskusi apapun. Ia tak lagi punya teman ngobrol satu frekuensi tapi ia tak merengek sepertiku.

Aku rindu sekali padanya, pada dadah-dadah gak jelasnya, cengir kudanya, sms dan telponnya di waktu-waktu gak tepat, nasihatnya. Dengan romantisme ayah-anak yang dicampur dengan rasa humor yang manis.

* I love you Sarayah! More and more! Kalau ayah gak tau artinya ayah bisa tanya bunda di atas sana..

Rumah, 25 November 2014
4.30 am

Sabtu, 22 November 2014

Om Ambon, Si Anak Angkat Kesayangan Ayah.

Aku baru saja bangun tidur saat adikku bercerita tentang Om Ambon yang anaknya akan lahir minggu ini. Om Ambon adalah anak angkat Ayahku, usianya mungkin 5-6 tahun lebih tua dariku tapi Ayahku dulu menyuruhku memanggilnya Om. Dia berasal dari Kupang, dia merantau ke Jakarta dan menjadi tukang parkir di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. Ayah mengijinkanya tinggal di rumahku bertahun-tahun.

Dari aku kecil, Ayahku memang hobi membawa orang tak dikenal untuk tinggal di rumah kami. Pernah sekali waktu  8 orang tinggal di lantai atas rumahku. Dulu tempat itu gudang lalu dialihfungsikan menjadi kamar tidur. Aku benci sekali sebenarnya keadaan seperti ini, rikuh. Mukaku masam di depan mereka. Berbagi rumah, berbagi makanan di meja makan, berbagi acara televisi, berbagi kamar mandi sampai Ayahku harus membuat septic tank  tambahan karena mampet adalah hal-hal yang sangat mengganggu privasiku.

Mereka hormat sekali pada Ayahku bahkan biarpun sudah tidak lagi tinggal di rumah. Mereka tinggal silih berganti ada yang akhirnya punya pekerjaan tetap lalu memilih punya kosan, ada yang menikah di kampung, menikah dengan mbak-mbak yang kerja di rumahku, atau kadang pergi saja tanpa alasan. Ayahku bilang tak ada salahnya membantu orang toh mereka bisa bantu-bantu di rumah. Aku sih tidak terlalu peduli saat itu. Makin banyak yang pergi aku makin senang. Bebas melakukan apa saja di rumahku sendiri.

Om Ambon adalah yang paling lama tinggal di rumah kami. Setiap pulang dari bekerja sebagai tukang parkir, dia akan membawakan kami satu bungkus Ayam Malaya yang dijual di dekat Gereja Theresia, Menteng. Kadang saya sms dia untuk bawa makanan-makanan lainnya seperti lumpia atau somay yang rasanya juga enak sekali. Lama-lama hubungan kami jadi lebih santai, mungkin karena Om Ambon juga sikapnya friendly dibanding yang lain. 

Dia anak angkat kesayangan Ayahku, kalau ayah sakit atau ada masalah, ayah selalu minta aku menghubungi Om Ambon. Laki-laki berkulit hitam itu memang sudah lama tidak tinggal bersama kami sejak kami memutuskan pindah dari rumah lama kami di kawasan Jatinegara. Dia tapi tidak pernah lupa menanyakan kabar kami.

 Kurang lebih setahun kami tidak dapat mengontak dia karena kami kehilangan nomor teleponnya. Saat Ayah akhirnya meninggal dunia awal tahun lalu, aku tidak bisa mengabarkannya. Pertengahan tahun lalu tiba-tiba ia menelponku. Aku berikan kabar buruk itu. Ia terdiam lama di seberang sana dan yang tadinya ceria menanyakan kabarku. Ia lalu sesunggukan karena menangis. Ia marah mengapa aku tak memberitahukan kabar itu segera. Mataku jadi berkaca-kaca, Ia pasti sama sedihnya denganku kan hitungannya Om Ambon juga anak Ayahku. 

Om Ambon sudah punya pekerjaan tetap sekarang jadi kepala keamanan di sebuah tempat di daerah Menteng. Kalau aku lewat Menteng, apalagi Gereja Theresia. Aku bebas makan semua jajanan di depan Gereja tanpa bayar sepeser pun. Semua ditraktir Om Ambon. " Kalau ada masalah atau butuh bantuan, kabarin aku ya Kak! kita harus saling bantu," ujar Om Ambon. 

Aku jadi berfikir, Ayahku baik juga ya sama orang. Dia menabung kebaikan pada banyak orang untuk investasi, orang-orang itu akan selalu menjaga aku dan adikku. Kebaikan Ayah pada orang lain adalah cara Ayah menjaga kami anak-anaknya biarpun Ia tak lagi kasat mata. 

"Kak, Om Ambon nikah loh Oktober nanti? lo bakal ke Kupang kan? Ditungguin loh. Oh, iya aneh juga ya dia masa anaknya lahir dulu baru nikah hahahaha," ucap Adikku saat aku masih mengucek mata karena baru bangun.

"Kita kapan makan bareng dia ya?, kalo kita lewat Menteng kita samperin yuk!. Minta traktir sekitar situ sekalian ngobrol-ngobrol. Kangen juga gw," ujarku, masih sambil mengucek mata.


Depok, 23 November 2014
4.06 PM

* Btw, menulis ini jadi kangen Ayah deh !

Minggu, 16 November 2014

Kejutan di Hampir Akhir Tahun

Asap rokok melayang-layang di antara kami. Sebentar-sebentar dia menyeruput segelas kecil kopi hitam yang dicampur susu kental manis. Aku melipat tangan di depan dada, satu tanganku terus menerus menyalakan rokok. Matanya, mata itu tajam dan menusuk seperti pedang tepat ke mataku. Dia bicara tiga jam tanpa henti. Aku mendengar ceritanya tanpa sekalipun melempar pandanganku dari matanya. 


Baru hari itu kami bertatap muka setelah semalaman kami berbincang. Aplikasi biro jodoh yang aku unduh di telepon genggamku mempertemukan kami hari ini. Aku tak pernah percaya bahwa banyak manusia aneh yang mempromosikan dirinya seperti barang dagangan di sebuah aplikasi perangkat lunak. Gambar-gambar wajah yang bisa kau pilih sesuka hati, kalau tak suka tinggal kau buang tanpa pikir panjang. Temanku yang sudah hampir lima tahun tak punya pasangan semalaman mengacuhkanku karena aplikasi ini, aku mati-matian menolak ikut serta. "Okey, gw coba, kayaknya enak sok punya otoritas, jadi berasa cantik ya. Lihat lalu pilih, gak suka ya tinggal buang," ujarku di sebuah malam pada temanku itu.


"Halo salam kenal, sepertinya kita satu kampus?"
"Salam kenal juga, sepertinya iya. Muka lo terlihat familiar"
"Gw lihat lo beberapa hari yang lalu di apartemen tempat gw tinggal, lo tinggal di apartemen yang sama dengan gw ya?"
"Oh gak kok, gw cuma sering kesana saja, ke tempat teman" 
"Lo itu kayaknya satu angkatan sama cewek gw deh"
"Oh ya? wah dunia kecil ya" 

Ingin bertemu orang tak dikenal malahan berbincang dengan anak satu kampus juga. Aku sering lihat mukanya dulu di kampus saat masih kuliah. Sambil lalu saja, tak ingat juga. Obrolan mengalir ringan saja sampai jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul dua pagi. 

"Kalau gak ganggu, boleh gw minta nomor telepon?"
"Hmm, boleh sih"
"Kalau gw telepon sekarang boleh? Gw belom pernah merasa nyaman ngobrol sama seseorang yang baru gw kenal"
"Gw gak terbiasa telepon-teleponan dengan orang yang bahkan gak pernah bertemu, lagipula gw sedang latihan Yoga"
"Okey, gak apa. Kalau bertemu bagaimana? besok bisa. Ada yang ingin sekali gw bicarakan"
"Nanti gw kabari ya.."

Aku akhirnya percaya bahwa banyak manusia aneh di dunia maya. Hanya dalam waktu beberapa jam saja berbincang tanpa temu muka, ada orang yang tiba-tiba bisa merasa nyaman, tiba-tiba ingin sekali bertemu bahkan dalam waktu cepat. Freak! kalau dia bukan anak satu kampusku dan pacar teman satu angkatanku, rasanya malas balas pesannya lagi. Esoknya, lelaki itu menghubungi hampir dua jam sekali, menanyakan dimana dan sedang apa. Rencana esok akan apa dan kapan kami bisa bertemu. Seperti teror rasanya. Untuk menghentikan perasaan tak nyaman ini, aku sepertinya harus bicara empat mata dengannya. 

Kopi hitam bercampur susu kental manis itu tinggal seperempat gelas. Asap rokok yang bersileweran sudah mulai tipis. Aku mulai menyeruput segelas es jeruk. Kata yang terus keluar dari mulutnya selama berjam-jam ini adalah "bahagia" .

Dia merasa tidak bahagia bertahun-tahun dan menuduhku adalah manusia yang sangat bahagia. Aku ternyata datang untuk mendengarkannya bercerita dan  berkeluh kesah tentang kehidupannya dan ketakutan-ketakutan yang menghampirinya. Aku mengganggap permasalahan yang dia lontarkan sederhana saja. Dia bukannya tak bahagia tapi dia tak mau cari jalan untuk bahagia atau mungkin tak tahu di mana jalan menuju bahagia itu berada. Intinya dia tak mau mencari. Sambil melepas kacamatanya, dia bicara tentang hubungan asmaranya selama 6 tahun dengan seorang yang berbeda agama. Keluarganya Muslim taat, keluarga si pacar Advent taat. Tak ada yang mau mengalah, tak mengalah pun mereka masih bisa ke KUA sebenarnya. Pilihan itu tidak dipilih, takut durhaka katanya. Putus? lelah ujarnya berkenalan lagi dengan perempuan baru. 

Dia tidak punya pekerjaan tetap dan tidak tahu mau kerja apa dan jadi apa ke depannya. Setiap dia merasa akan mendapatkan kerja yang tepat ke Bali bahkan Sudan, keluarganya selalu bilang jangan. "Takut durhaka.." sudah dua kali dia bilang begitu. Sejak kecil sampai kuliah, dia tak punya sahabat, tak pernah merasa nyaman bicara dengan siapapun bahkan dengan pacarnya sendiri. Aku, katanya, satu-satunya orang yang terasa seperti wadah dimana dia menumpahkan segala apa yang ada di hati dan otaknya. Dari apa yang dia ceritakan, satu hal yang pasti kutahu biarpun aku tak banyak bicara saat itu. Dia sedang minta tolong. Ya, kepadaku. 

"Gw gak pernah ngobrol sama orang yang gak berhenti menatap mata gw selama berjam-jam"
"Setiap bicara sama orang gw selalu melakukan itu kok, karena mengobrol itu butuh konsentrasi. Kalau gak kita akan lupa kita bicara apa hari ini. Dan, kalau seperti itu, lalu untuk apa meluangkan waktu untuk bertemu?"
"Gw lihat seluruh hal tentang lo di social media, lo dikelilingi teman-teman yang banyak, lo tersenyum di setiap foto, lo sepertinya gak pernah sedih, lo seperti mudah memutuskan sesuatu di hadapan lo tanpa banyak merenung. Kenapa lo begitu bahagia?"

Nada suaranya mulai naik, daritadi aku menangkap intonasi yang sangat fluktuatif. Terdengar pelan dan lembut lalu naik bersama amarah yang tertahan, lalu seketika dia kembali bernada manis. Setiap dia bilang aku bahagia, jarinya menunjuk-nunjuk mukaku lagi . Aku lekat menatap matanya saat itu. Tubuhku mulai bergetar, mentalku mulai terpedaya. Salah satu tanganku sudah perlahan terkepal. 

"Lo belom sama sekali kenal gw, hidup gw gak selalu bahagia tapi gw tahu bagaimana cara membuat setiap detik dalam hidup gw bahagia biarpun kenyataannya gak. Gw gak suka bicara hal yang sangat pribadi sama orang yang baru kenal. Tapi, lo sudah terlalu lancang menuduh gw sebagai orang paling bahagia di dunia dan menempatkan diri lo seolah-olah manusia yang paling menderita."

Aku berkata dengan nada yang tegas, perlahan, namun sangat tendensius. 

"Gw gak punya bapak dan ibu, gak punya rumah, Gw kuliah dengan uang yang gw hasilkan sendiri, dari bekerja sebagai reporter dan mengikuti lomba menulis. Gw kelaparan mengejar cita-cita sebagai kurator seni rupa. Lo jauh lebih beruntung daripada gw, punya bapak dan Ibu, tidak harus banting tulang untuk terus kuliah. Biarpun hidup gw menyedihkan, gw tahu bagaimana jadi bahagia, gw tahu apa mimpi gw dan konsisten mengejarnya biarpun gak semua orang bisa percaya, Gw mau berteman dengan banyak orang dan menganggap mereka seperti keluarga gw sendiri. Itu yang gak lo punya, yang gak pernah lo sadar"

Dia diam seribu bahasa, dia tidak pernah menyangka bahwa hidup yang dikeluhkannya itu tak sebanding dengan apa yang aku jalani. 

"Gw menghargai setiap orang yang datang ke hidup gw, agar mereka juga menghargai kedatangan gw. Itu yang gw lakukan kepada lo hari ini. Menurut lo ada yang mau ketemu orang yang tiba-tiba minta ketemu padahal baru semalaman berinteraksi, lewat dunia maya pula? Gak ada! harusnya gw bawa botol air merica di tas gw sekarang buat nyemprot lo. Tapi gak, gw gak bawa apapun. Gw percaya sama lo. Lo menyangkal semua hal yang datang ke diri lo termasuk hal yang baik. Lo lupa bersyukur..."

"Maaf, gw gak tau lo.."  katanya dengan air muka yang berubah lesu

"Gw tahu lo sedang minta tolong, gw akan bantu lo kok. Gw tertarik menjadi pendengar cerita-cerita lo. Kalau lo mau bahagia seperti apa yang lo tuduhkan ke gw. Ikuti cara gw melihat hidup ini, kalau lo tetap menyangkal, lo boleh cari orang lain," kataku sambil mematikan rokok dan menandaskan es jeruk yang sudah tak dingin lagi di atas meja.

"Gw akan ikuti lo.."

Tahun ini aku sudah bertemu banyak sekali orang baik. Sepertinya dia didatangkan sebagai kejutan akhir tahun. Sebagai misi "Pay it Forward" yang aku jalani setelah perjalanan panjangku bulan Oktober lalu. Aku ulurkan tanganku untuk lelaki yang terperangkap dalam sumur keluhan itu. Di matanya hanya ada dinding pembatas yang mengitarinya. Untuk orang yang selalu mengeluh, menariknya ke atas daratan untuk melihat dunia pasti hal yang akan membuat migrain ku kambuh sampai akhir tahun. 

"Besok kita rombak CV lo kalau lo punya pekerjaan semua orang akan percaya sama lo. Pacar lo, keluarga lo dan bahkan diri lo sendiri. Oh, iya lo perlu memproduksi endorphin di dalam tubuh lo biar bisa lebih bahagia. Minggu ini kita jogging. Kalau lo gak nurut, lo boleh cari orang lain.." ucapku sambil melempar pandangan pada hujan yang sudah mulai turun di luar jendela. Tanganku tak lagi mengepal. Satu batang rokok dengan asap yang melayang-layang di antara kami menutup sore itu. 




Rumah, Depok, 17 November 2014
2.59 AM

Selasa, 14 Oktober 2014

Pay It Forward

Akhir tahun 2013 yang lalu aku melalui sebuah perjalanan dari Cirebon, Solo, dan lalu kalau tak salah berakhir di Semarang. Paling melekat dalam ingatanku adalah pertemuanku dengan Kang Yadi mantan kenek metromini 75 jurusan Pasar Minggu - Blok M yang entah keberuntungan apa yang menghampirinya, sekarang ia menjadi salah satu pegawai di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Aku lupa-lupa ingat cerita tentang kisahnya terlempar di Cirebon dari Jakarta. Kalau tak salah, ia dengan hati tulus membantu mendorong mobil Sultan yang mogok di tengah Jalan. Keringatnya bercucuran tapi senyumnya yang selalu sumringah itu mungkin membuat Sultan berbaik hati dan memberikannya sebuah kartu nama dan sekilas tawaran, "Kamu mau kerja di Keraton?"

Dengan keberuntungan itu, ia jadi sadar harus bersyukur dan berbuat baik, salah satunya denganku yang tak kenal siapa-siapa di Cirebon. Ia mengenalkanku dengan para abdi dalem keraton, mengenalkanku dengan abdi sesepuh untuk bisa tinggal di rumahnya. Tidur dengan kamar tanpa dinding tak menyurutkanku untuk bersyukur di perjalanan ini.

Sejak perjalanan itu sampai hari ini, aku merasa berbuat baik adalah esensi dari kehidupan ini. Aku jarang bertemu orang jahat setelah perjalanan itu kecuali bos ku yang menularkan energi negatif setiap harinya sampai aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaan yang kusukai.

Lalu di Bulan Oktober 2014, aku melakukan perjalanan kembali. Dari Yogyakarta, Blitar, Ubud, sampai Gili Terawangan. Asing dan tak kenal siapa-siapa. Banyak yang terjadi selama 15 hari perjalanan darat yang aku lalui . Namun, aku hanya ingin bercerita tentang seseorang yang menyulut kepekaan hatiku kembali setelah hampir padam.

Khrisna namanya. Seorang lelaki berkulit coklat gelap, berbadan tinggi  tegap, berambut gondrong dan memiliki senyum yang manis sekaligus berwibawa. Ia sama sekali tak mengenalku tapi kebaikannya mengikutiku di sisa perjalananku di Gili Terawangan. Segelas jus nanas, sepiring nasi goreng lezat ala restoran, satu kamar dengan kasur yang empuk dan besar, serta malam yang mengayunkan lagu-lagu Eagle, The Police, dan John Denver di sebuah cafe bernuansa Hawaii adalah kebaikan gratis yang ia berikan pada seorang asing sepertiku. Sesuatu yang tak bisa kubayar.

Aku meninggalkan Gili Terawangan dengan hati yang berbuih-buih, kepekaan hatiku seperti disulut, dipanaskan, oleh pertemuanku dengan lelaki baik ini. Aku menyebrang lautan dengan optimisme yang memuncak. Aku merasa harus membayarnya dengan caraku sendiri.

Dua turis asal Cina berdiri di sebelahku saat menunggu angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar. Mereka ingin ke Senggigi, ditunjukkannya sebuah alamat lengkap penginapan yang ingin mereka tuju. Bergantian kendaraan menawari mereka tumpangan dengan harga yang tak masuk akal. "Follow me, do you want to go to Senggigi with 80 thousand rupiahs?" Ujarku dengan bahasa inggris pas-pasan. Mereka mengangguk, itu harga termurah yang mereka dengar setelah lama berdiri di pinggir jalan. Aku tunjukkan kertas berisi alamat penginapan pada si supir, ia mengangguk tanda sepakat.

Mobil Carry karatan itu melaju menuju Pantai Senggigi, Gawat ternyata supir tak tahu dimana penginapannya. Ia berputar-putar tak tentu arah dan mulai menggerutu. Temanku sudah memegang GPS dan aku sibuk menranslate apa yang dibicarakan turis Cina itu kepada si supir. Aku akui penginapannya memang jauh dan masuk ke dalam pemukiman warga yang sulit dijangkau.

Kami sampai dan turun, supir meminta turis membayar 120 ribu. Turis memberinya 100 ribu dengan harapan ada 20 ribu yang akan sampai di tangannya. Si supir menyelonong masuk mobil. Aku tak suka keadaan ini, ia harus mengembalikan 20 ribu itu, kesepakatan dari awal sudah jelas dan alamat penginapan sudah disetujui dengan anggukan. Harusnya ia tahu jalan. Aku mendebatnya di bawah matahari Senggigi yang terik. Di kepalaku saat itu, berseliweran wajah Mas Khrisna dan kebaikannya aku merasa bisa membayarnya dengan mengembalikan 20 ribu ini ke turis tadi. Setelah lama berdebat, supir tadi mengeluarkan 20 ribu dengan muka masam, aku menyambarnya dan memberikan pada pasangan turis Cina itu, aku disambut dengan salaman dan kata terimakasih yang sampai hari ini tak bisa kulupakan rasanya.

Aku membayar kebaikan Mas Khrisna dengan memberikan kebaikan pada orang lain. Aku pulang ke Jakarta dengan membawa sebuah bekal yang berarti, sebuah pelajaran bahwa tak ada alasan kita untuk tak menjadi orang baik hati.

Itu saja,

Manggarai 16 Oktober 2014
Di dalam kereta 8.05 PM

Rabu, 24 September 2014

Tak Ada Judul (2)

Ada banyak orang yang memilih bertahan pada hal-hal tak masuk nalar.
Bertahan pada cita-cita yang dari kecil sudah menjalar atau mungkin pada cinta lama yang membuat matamu selalu nanar.

Disakiti terus menerus akan membuatmu menjadi manusia paling kebal sedunia. Itu pikirku.

Pernah suatu hari, aku berjalan cepat bahkan sampai berlari ribuan langkah. Untukku apa yang ada di belakang tak lagi menarik. Aku punya kekuatan yang membuat diriku sendiri pun terkejut bisa berlari sekuat itu. Aku bahagia, hidupku bagai kapas atau mungkin seperti minum whisky di malam buta. Ringan dan melayang.

Aku hampir saja memegang sesuatu di depanku  dan teriak "finish!" sampai suatu saat, di satu waktu teriakan memanggilku. Suara yang begitu familiar. Ia lantang meneriakkan namaku tapi kerongkongannya seperti bergetar, aku terlalu mengenalnya sampai tali yang melintang di depanku terasa jauh. Tubuhku lemas tak mampu berdiri, aku berhenti, diam, sambil merasakan suaranya yang mengandung sendu dan sunyi.

Aku menengok ke belakang, jantungku berdetak cepat, ludahku lebih sering kutelan dari biasanya, mataku tertuju pada satu titik, dan suaraku terdengar samar oleh telingaku sendiri, "Ada apa? " itu seingatku kata yang keluar dari bibirku yang bergetar karena gugup.  Kupertaruhkan ribuan langkahku, kupertaruhkan garis finish yang makin kabur itu. Aku lari ke belakang tanpa henti. Memegang tangannya, membantunya berdiri, dan menemaninya berjalan. Atas inginku sendiri.

Kupertaruhkan masa depanku untuk masa lalu. Bukan sekedar masa lalu, tapi masa lalu yang tak pernah berhenti berputar di kepalaku dan bergejolak di hatiku. Masa lalu yang kupaksa masuk kardus, padahal kardusnya tak pernah muat. Oleh sebab itu, ia menyembul-nyembul keluar dari apa yang ingin sekali kututup saat itu. 

Aku selalu ingin menemaninya berjalan biarpun ia terseok dan aku tegap atau bahkan ia tegap dan aku terseok.

Aku terseok-seok pada apa yang sudah berubah. Pada apa yang tak lagi manis, pada apa yang sekeras batu.

Ia batu dan aku hujan.
Aku air yang jatuh diatasnya sampai ia menjadi lembut dan rapuh seperti pertama kali kami bertemu.

Batu yang jadi pasir, yang tergenggam pada tangan. Tangan yang tak lagi punya daya untuk memegangnya erat, karena terlalu kuat  akan membuatnya keluar dari sela-sela jari dan menghilang tak tertangkap mata. Tanganku akan menengadah seperti melakukan ritus doa. Membiarkannya  diam diatasnya sebagai pasir yang lembut.

Lembut seperti mimpi yang dulu dirajut, lembut seperti ombak kecil di pinggir pantai, lembut seperti semilir angin di bawah pohon, lembut seperti lelaki penyabar dengan senyum manis yang pernah aku genggam tangannya ribuan hari yang lalu

Depok, 25 September 2014
2.42 AM

Kamis, 28 Agustus 2014

Matahari dan Sahabat Lama


"Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.

Matahari memang tidak pernah merasa berbuat sesuatu dalam urusannya dengan pohon dan bunga..."

Aku tak tahu persis apakah cuplikan puisi diatas adalah deret kata dalam puisi yang sama karya Sapardi Djoko Damono. Judulnya aku lupa dan aku malas mencari di internet karena sinyalnya naik turun. Tapi kata-kata diatas indah dan manis. Ia bercerita tentang matahari yang tak pernah pamrih dan tak pernah marah.

Mengingat matahari menurutku selalu identik dengan datang dan pergi. Ia datang lalu pergi.  Ada yang begitu menanti, ada juga yang tak terlalu peduli. Matahari yang membawa siang dan mengantarkan malam itu toh selalu hadir sampai mitos terompet sangkakala akan terdengar berbunyi kencang, entah kapan, yang pasti dunia sekitarmu akan terus-menerus malam dan jutaan partikel pasir beterbangan memenuhi pandangan, tenggorokan, sampai menyesak ke paru-paru.

Aku baru saja kedatangan seorang sahabat lama yang menelponku di tengah padatnya pekerjaan, nomor telpon tak dikenal, suara yang samar-samar terlupa, sampai terpaksalah aku bilang "Hmm, ini siapa ya?" .

Kami lalu janjian di tempat minum kopi di Kalibata. Ia pergi tiga tahun lalu dengan begitu banyaknya masalah dalam hidupnya. Hari ini dia kembali mengumpulkan sembilan sahabatnya dan berkata "Hidup gw sudah baik-baik saja" . Siapa bilang selama tiga tahun ditinggal tanpa kabar kami tak kesal. Kami sampai memilih diam karena saking kesalnya mencari kabar ia darimana-mana. Tapi, toh kami datang kembali biarpun  perasaan sedikit kesal itu masih ada, salah satu dari kami lalu bertanya di tengah keheningan malam itu, "Lo pernah kangen kita gak sih? Lo pernah pengen tahu kabar kita kayak kita yang pengen tahu kabar lo?" . Akhirnya pertanyaan itu keluar juga ditengah tawa-tawa nostalgia kami.

Semua diam menunggu jawaban, "Gw selalu nanya kabar kalian lewat temen yang dateng ke rumah gw, gw tahu udah terlalu lama pergi, gw gak enak dateng lagi."

Sahabat tidak pernah pergi semudah itu. Kami masih di tempat yang sama, menunggunya menyapa kami kembali.

Temu Kangen
Phoenam Cafe 23 Agustus 2014.
Untuk Rendy, sahabat kami...

Kamis, 10 Juli 2014

Aku Baru Saja Ingat.


Aku baru saja ingat, ini tepat tanggal sebelas Juli. Bukan tanggal sebelas biasanya.

Hari ini pernah jadi hari yang kita tunggu- tunggu. Harapan selalu tumpah ruah ketika jarum jam sudah berdentang 12 kali. Kita rebutan mengucap selamat. Selamat tanggal sebelas.

Kita selalu merayakannya dengan pewangi ruangan, obat nyamuk elektrik, satu pak tisu dan terkadang sebotol dua botol bir bintang. Kita merayakannya di atas tempat tidur sambil berkata bisik-bisik tanpa busana. Selamat tanggal sebelas.

Melewati sebelas tanggal sebelas tanpamu adalah siksaan neraka ke enam. Hanya ada pesan bertuliskan "apa kabar? " lalu berakhir diam.

Hari ini, aku tiba-tiba ingat ini hari apa dan kita sedang bersama. Aku tiba-tiba seperti dibenamkan masa lalu dan masuk ke neraka ke enam. Aku diam melihatmu, disampingku, berdiri, di bawah langit bendungan hilir.

Lima jam mendengarmu berdongeng tentang konstelasi politik. Berjalan kaki dari karet menuju benhil. Makan pecel ayam terenak di Jakarta hasil pencarian di internet. Menemanimu wawancara adik calon presiden. Menungguimu mengetik tumpukan berita demi loyalitas.
Kita sudah merayakannya bersama, tanpa kita sadari.

Kita masih selalu ada.

Tanggal sebelas Juli juga akan selalu ada.

Yang berbeda adalah, kita mau kemana?


Antasari. 11 Juli 2014

Rabu, 25 Juni 2014

Dunia Memang Aneh

Dunia memang aneh.
Dua orang yang dulu pernah sedetak nadi bisa dibuatnya berjarak jauh sekali.

Dunia memang aneh.
Dua orang bisa dibuatnya berpisah,
Bukan karena saling benci, tapi bahkan karena saling cinta.

Dunia memang aneh.
Dua orang bisa terkena cemas berhari-hari karena rindu yang mereka tutup-tutupi sendiri.

Dunia memang aneh.
Dua orang yang saling mengait hati tak dijamin akan saling berbagi cerita sampai mati.

Dunia memang aneh.
Dua orang yang setiap hari saling mencari bisa dibuatnya sekarang saling membelakangi.


*Mengutip dari akun twitter milik sendiri
Tertanggal 23 November 2013

Kamis, 12 Juni 2014

Lagi-lagi sebelas

Aku tak pernah habis pikir bagaimana sebuah hati yang melewatkan banyak waktu untuk berhati-hati masih saja dengan kuat terkait dengan sebuah hati yang ada entah dimana sekarang.

Setiap akan tanggal 11 dan setelah tanggal 11 baru saja lewat hati ini begitu gelisah. Sebuah rindu yang tak pernah diusung maju ke depan, hanya diam diam dipendam sembari mendengar lagu-lagu kenangan dan membuka kembali file-file gambar lama.

Anehnya di tanggal lain aku hampir tak merasakan apapun. Tapi kalau hatiku mulai gelisah dan tiba-tiba melamun dan tanpa sengaja (atau disengaja) memutar-mutar  lagu Mr. Lennon aku rasanya ingin langsung lihat kalender dan benar saja saat kulihat kalender di handphone  saat itu ya kalau tidak tanggal 10 pasti tanggal 12 dan aku hanya bisa menghela nafas.

Aneh juga, pikirku..

Di sekitaran tanggal itu juga biasanya sebuah pesan datang entah menanyakan kabar atau pertanyaan-pertanyaan aneh yang tautologis. Kadang aku berpikir apakah disana si pengirim pesan merasakan kegelisahan yang sama ya setiap akan tanggal 11.

Mungkin sudah terlalu banyak tanggal 11 yang kami lewati sampai ada energi yang begitu kuat di tanggal itu yang harus kami (tepatnya aku) hadapi. Ya aku tidak sendiri, dan ia tidak sendiri juga. Dari jarak sejauh apapun kami masih saling menguatkan biarpun hanya lewat mantra-mantra doa.

Semoga ia dimanapun berada punya kebahagiaan dan langkah yang kuat menghadapi jalan yang makin hari makin terjal.

Dan semoga ia tak punya waktu untuk baca tulisan ini.

Rabu, 28 Mei 2014

Tak Ada Judul

Tak kunjung selesai jalan merindu engkau wahai tuan pemenuh hati

Tak kuat hamba menuntun rasa yang lantas terlalu sering timbul  namun terlalu sering pula tenggelam.

*untuk yang tak henti-hentinya diingat.

Jumat, 02 Mei 2014

Dasar gila

Dasar gila!

Iya kau paling bisa membuatku gila

Menunggu pesan datang lewat angin, jari-jari, matamu dan apa saja , apa saja..

Dasar gila!

Iya aku gila dengan setia menunggu pesanmu lewat angin, jari-jari, matamu dan apa saja, apa saja..

Depok, Ruang karaoke.
2 Mei 2014, 12.15 am.
Dan sedang menunggu pesanmu (lagi)

Senin, 14 April 2014

Hanya Isyarat

“Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.”

*penggalan paragraf dalam cerita Hanya Isyarat (Rectoverso, Dewi Dee Lestari)


Selasa, 08 April 2014

Ah, Masa?


Kalau kau bilang kau benci dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu masih saja peduli kalau dia cerita, apa itu namanya?

Namanya kau sedang menyangkal.

Ah, masa?

Aku bisa pastikan aku tak lagi mengeluarkan air mata ataupun menyembunyikan mata yang berkaca-kaca. Aku pernah berjanji untuk tak mengeluarkan kata tapi mendengar dia bercerita layaknya teman  yang sudah lama tak jumpa, aku tak bisa menyembunyikan tawa.

Lalu kami pun tertawa, 
bersama..

Aku pernah enggan membalas pesan. Memasukkan ceritanya dari kuping kiri lalu keluar di kuping kanan. Semuanya demi aku mau berjalan. Tapi ia menarikku pelan-pelan dan membuatku merasa ada di dalam pelukan. Pelukan yang sarat kenangan.

Tapi, aku tak mudah dibodohi biarpun kami sempat menjalani kebodohan sekian lama. Aku sudah dengan lihai membalik rasa, mengurai lara, menjaga kata, dan menelan mentah-mentah asa.

Apa yang kau rasa?

Aku sangat ingin menanyakan itu di depan matamu dalam jarak sejengkal. Dalam jarak segitu pula kita pernah saling berperilaku binal. Lalu sekarang kita kesal dan merasa tak saling kenal.

Aku pikir sekarang kau hanya seseorang yang lari dari satu keramaian ke keramaian yang lain. Apa kau tak tahu bahwa aku sangat mengenalmu, aku mencium wangi kesepian di dalam badan, Badanmu.

Kenapa kita tak duduk berhadapan, saling bertatapan dan berkata
“Apa kita sedang terjebak kenangan? “  ,
“Kenapa kau masih saja mengirim pesan?” ,
“Kenapa aku masih menangguhkan kekesalan?”
“Apakah kau akan datang di masa depan?”
“Apakah kita akan selalu saling jadi batu sandungan?”
“Apa kau rindu kita tertawa di trotoar jalan?”
“Apakah kita akan mengulang kebodohan yang kita ciptakan?”
“Apakah kita akan saling menjauh sampai 100 tahun ke depan?”


Kau tidak sedang menyangkal?

Ah, masa?



Senin, 07 April 2014

JATUH CINTA PADA JARI-JARI TAK DIKENAL

Percaya jatuh cinta pada  pandangan pertama?
Aku percaya.

Aku pernah jatuh cinta pada sebuah nama sansekerta di sebuah kertas berisi rentetan nama mahasiswa baru. Saat seorang senior memanggil namanya, leherku hampir patah karena dengan cepat menengok. Beberapa waktu kemudian aku memacarinya.

Aku pernah jatuh cinta pada sesosok lelaki di sebuah majalah.  Memandanginya dari malam ke malam. Dalam hati aku tahu suatu hari kami akan punya hari-hari bersama. Kurang lebih satu tahun kemudian, kami pacaran bertahun-tahun.

Aku pernah jatuh cinta dengan seseorang di pinggir danau yang duduk membakar ganja pagi-pagi buta, hanya karena dia memakai jaket hijau tua dan sepatu dengan mode yang kusuka. Aku mengajaknya berbicara dan kami suka menghabiskan tawa bersama.

Kali ini aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan jari-jari yang tak dikenal di dalam kopaja.


Aku sedang tak peduli sekitar, hatiku sedang kacau balau.
Tapi aku berdiri mematung, terkesiap dengan hati  bergetar hebat. Tubuhku lemas seketika. Jari-jari itu mendarat tepat di sebelah jari-jariku yang memegang pegangan kursi yang hampir semua karat.

Aku hanya memandangi jari-jari itu, jari-jari yang membuatku nostalgia. Cara dia memegang kursi, cara dia mengetuk langit-langit bis kopaja mengingatkanku pada seseorang. Aku tak berani melihat wajahnya. Aku perlahan memandangi kemeja yang ia pakai, seingatku warnanya biru. Rahangnya tegas dan khas, matanya sipit padahal bukan orang cina, matanya tajam dan dalam. Ia serius dan misterius. Sebuah kesan yang membuat pikiranku langsung baur.

Ia turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Aku rasanya ingin turun dan menanyakan namanya. Tapi aku takut disangka gila. Ia turun dan aku seperti melambaikan tangan pada harapan yang absurd.

Esoknya aku sengaja naik bis di jam yang sama biarpun aku telat dua jam dari waktu masuk kerja. Tapi sosoknya tak kuutemui lagi. Kerja apa dia jam 11 baru sampai kantor? Aku yakin suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi. Wajahnya membuyarkan apa yang mau aku kerjakan setiap hari. Dua bulan berlalu aku tak lagi bertemu pandang dengannya.

Suatu hari aku telat lagi masuk kerja, masuk ke dalam bis dan memandangi jalanan dari balik kaca-kaca retak. Lagu-lagu Pink Floyd berkumandang di headset yang kusumpal di dalam telinga. Sosok yang kukenal melewatiku dan turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Ia muncul tanpa firasat. Aku terkejut dan kesempatan seketika terlewat. Mobil –mobil yang berdesakan padat, hanya mempersilakan mataku melihat kemana ia berjalan setelah turun di pertigaan jalan. Aku tak tahu apakah kami akan bertemu lagi. Hatiku masih bergetar hebat dan tanganku mulai dingin.

Sehari setelahnya aku tak sempat berdandan. Rambutku masih basah, bajuku masih baju kemarin, Aku masuk bis dengan muka masih ingin tidur. Ia ada di kursi paling belakang dengan kemeja coklat dan tatapan mata yang lekat. Aku berbalik badan, melihatnya lama-lama aku tak kuat. Dia hanya akan melihat punggungku dan diam-diam aku tersenyum kaku. Sudah tiga kali kami bertemu, rasanya ini bukan saja perihal kebetulan.


Senin dan Rasa Penasaran Yang Mau Meledak Dari Kemarin.

Orang akan bilang aku gila kalau aku bilang bahwa aku jatuh cinta pada sosok yang tak kukenal. Yang hanya akan kutemui kalau aku terlambat pergi bekerja. Aku merasa ada yang berbeda, semesta tak akan membuatku penuh rasa penasaran sepert ini kalau aku dan dia tidak punya korelasi. Hari ini atau nanti.

Sehari sebelum hari Senin aku naik vespa dibonceng teman. Aku masuk belokan Kemang Selatan menelusuri satu persatu rumah yang tak ada tanda-tanda sebuah kantor terletak disana. Aku bertanya  dari satu orang ke orang lain di pinggir jalan. Apakah ada sebuah kantor yang bisa menjadi penunjuk jalan aku mengetahui namanya. Hasilnya nihil.

Senin, aku naik vespa dibonceng teman. Melihat satu persatu orang turun dari dalam kopaja di depan pom bensin Kemang Selatan. Tak kutemui sosoknya di jalanan. Sudah pukul 11, harusnya ia sudah hadir di depan mataku dan menyusup masuk ke otakku. Mungkin aku terlambat.

Pukul setengah 12 dan langkahku sudah gontai. Aku langkahkan kakiku masuk ke sebuah convenience store membeli sebotol yoghurt rasa anggur merah. Dalam bayanganku aku menenggak juga anggur merah, mabuk dan lupa dengan sosok tak kukenal itu. Tepat ketika aku keluar, seseorang masuk ke dalam tempat yang sama . Seseorang dengan rahang yang tegas dan khas, mata yang sipit tapi bukan orang cina. Seseorang dengan jam di tangan kanan dan mata yang yang tak bisa aku deskrpsikan ketajamannya. Ia masuk tanpa memerhatikan sekitarnya . Aku terpaku, kakiku terkait pada aspal jalan. 

Jantungku berdetak cepat ,memilih pergi ke kamar mandi dan hap! dia hilang ditelan bumi.

Aku sepetinya mulai gila, ujar sahabatku yang sudah kepanasan menungguku mengejar sosok absurd di dalam kopaja, Katanya mungkin aku hanya berhalusinasi atau mungkin aku terlalu banyak menonton film prancis yang suka sekali mengangkat tema dengan cerita-cerita seperti yang aku lakukan ini.

Sepertinya memang iya, jatuh cinta memang kadang membuatmu gila. Cinta bisa membuat Romeo dan Juliet dengan bodohnya minum racun seakan-akan mereka akan ada di surga yang sama nantinya. 

Jatuh cinta bisa membuat hatimu bertekuk lutut bahkan pada jari-jari yang tak dikenal.

TB. Simatupang, 8 April 2-14
2.49 AM





Jumat, 31 Januari 2014

Sudah Dua Puluh Lima Tahun



Tadi malam aku memutuskan bertemu sahabat lama, kami menghabiskan waktu bercakap-cakap di sebuah cafe retro di dalam hotel di bilangan Gondangdia. Ia meminum mocktail bernuansa hawaii dan aku menyeruput segelas tinggi green tea latte. Namun, yang penting bukan itu, melainkan obrolan kami berjam-jam tentang  “Sekarang kita sudah jadi apa?”

Ia adalah sahabatku ketika berumur 13 tahun, di umur 15 tahun kami pernah melakukan sebuah percakapan tentang,

“Di umur 25 tahun kita bakalan kayak gimana ya?”
Semua rencana dan impian meluncur dari kepala kami,

“Gw bakalan jadi wanita karir, punya apartemen sendiri, mandiri”

“Kira-kira kita bakal ML sebelum menikah gak ya? Kayaknya gw iya deh,”

“ Gw bakalan nikah di umur 27 tahun atau gak 30 tahun. “

Di umur semuda itu kami sudah menjadi cikal bakal perempuan bebas dan ambisius.

Setelah bertahun-tahun kami lalu bertemu. Ia dengan rok mini dan gaya perempuan chic jaman ini, ia masih sama, laki-laki masih selalu melihatnya dari kepala sampai kaki, kali ini lelaki bule yang kami temui melempar senyum padanya “Gw mau punya suami bule,” ujarnya ketika  baru saja duduk di sebuah sofa panjang. Aku masih dengan kaos, celana jins, tumpukan kalung dari nias dan kalimantan dan sepatu boot. Kami tidak pernah berubah.

“Kita pasti tidak seakrab dulu”

“Kenapa sih lo pesimis banget, kalo gak dipaksain hari ini bertemu kapan lagi?”

“Hari Selasa gw umroh”

“Lo anaknya solat banget dong ya sekarang?”

“Gak juga, tapi gw mau mencari jalan kehidupan gw”

“ So,usia kita tahun ini 25, apa yang sudah terjadi dalam hidup lo?”

Ia mulai bercerita, bahwa di usianya ke 25 ia belum tahu kemana arah hidupnya, bahkan ia butuh pergi ke Mekkah, Madinah, dan mencoba beribadah di Israel ditemani pemandangan puluhan tentara bersenapan laras panjang di sekitarnya.

“Nyokap nyuruh gw ngerasain gimana rasanya toleransi dan tertekan di Israel dan negara-negara konflik di sekitarnya, jadi setelah umroh gw akan ke Israel, Syiria, dan Lebanon, sendirian.”

Dalam pikiran gw, perempuan secantik ia dan dulunya sangat mandiri itu tidak mungkin kebingungan di usia 25 tahunnya ini, nyatanya ia tidak tahu arah. Ia bekerja tiga bulan  di sebuah perusahaan asing dengan gaji diatas rata-rata, Ia lulusan teknik kimia Universitas Negeri, Ia cantik dan fashionable, tapi ia tetap tak tahu ingin jadi apa. Ia resign dan sedang galau.

“Mimpi itu ada expired date nya, gw apply pekerjaan ke banyak negara tapi gak satu pun nerima gw, gw hopeless

Aku patut berbangga hati kali ini, di usiaku ke 25 tahun setidaknya aku sudah tahu ingin jadi apa dan sudah kujejakkan kakiku di jalan yang tepat. Aku mulai bercerita tentang keberhasilanku bertahan pada mimpiku tentang karir padanya.

“Setelah membuat skripsi tentang seni rupa gw punya mimpi berkarir di bidang ini, hampir lima bulan gw kelaperan karena sengaja menolak pekerjaan yang bukan seni rupa, banyak orang bilang gw gila”

Sekitarku mulai menggoncangkan tubuhku dengan kata-kata “lo gak realistis bi”. Entah kenapa perasaan yakin ini terlalu kuat untuk dipindahkan. Saat itu rasanya, mimpiku sedang berjalan ke arahku dan aku hanya perlu menunggunya datang, tak lama, tapi sayang tak ada yang percaya. Banyak sudah yang kukorbankan, keluarga, hubungan cinta, kesehatan, demi mimpi yang dinilai absurd dan hampir membuatku menyerah. Tawaran pekerjaan terus saja datang tapi tanganku tetap melambai.

Aku kehilangan semuanya saat itu, semua.

Aku menyerah, aku kirimkan sebuah surat lamaran ke majalah musik. Setelah menonton Almost Famous, jenis pekerjaan jurnalistik yang ingin aku kerjakan hanya sebagai jurnalis musik lebih dari itu tak ada lagi yang menarik. Aku dipanggil, beberapa wawancara aku lewati. Bodohnya, aku memilih tidak tidur sebelum wawancara dan saat sampai ke kantor untuk wawancara terakhir dengan pimpinan redaksinya yang penggemar berat Metallica itu, aku masih kena efek “basian” sisa semalam.

“Kamu suka nonton film?”

“Tidak pak, saya tidak suka bioskop, gelap dan sempit”

“Kamu suka musik?”

“ Tidak....” (ini jawaban super tolol untuk seseorang yang sedang melamar di majalah musik!)

Hidupku tak cepat sial ternyata, ia izinkan aku menulis beberapa artikel di majalah itu, tapi aku memilih untuk sadar bahwa ini bukan mimpiku.

Aku kembali kelaparan..        
         
“Lo mau jadi apa sih?” ujar seorang teman

“ kurator seni rupa muda kenamaan..”

“Ada pameran fotografi di Erasmus, kuratornya kayaknya namanya sering lo sebut-sebut, lo mau bantuin?”

“MAU!”

Dan semesta terus menantang kesabaranku untuk bertahan. Aku tukar pekerjaanku seharga sejuta semalam demi menemui kurator itu di Kuningan, sekedar kenalan pikirku. Tapi sampai malam ia tak kunjung datang. Rasanya mulai sia-sia.

Esoknya aku datang lagi, menuggu sampai malam, batang hidung kurator senior itu tak kelihatan. Harapanku mulai berangsur pupus. Kami sudah mulai berbenah dan ia muncul. Aku dikenalkan sebagai lulusan filsafat dengan skripsi tentang kritikku pada pasar seni rupa, senyumku sudah mengembang, hidungku juga.
Tapi, matanya tak sama sekali melihatku, terdengar satu kata saja

“ooh..”

Lalu ia pergi dan mulai mengatur tata letak pameran. Aku bagai sebuah bongkahan es batu, yang diketok palu dan hancur berkeping-keping. Sial.

Esoknya, pembukaan pameran akan dimulai. Aku hanya melihat ia datang dan tak sedikit aku mengangkat wajahku untuk menatapnya. Ia tergopoh-gopoh karena belum membuat presentasi untuk pameran. Ia hanya bisa menatap sebuah layar laptop berformat windows. Beberapa menit lagi ia harus bicara di depan puluhan orang. Aku menghampirinya.

“ Ada yang bisa saya bantu pak?”

“ Saya harus buat presentasi, tapi saya gak bisa pake windows, bisa bantu saya?”

Aku di depan layar laptop, 30 menit kami lalui dengan saling melontarkan kata untuk merumuskan ide dan deskripsi di tiap halaman presentasi. Dan selesai. Aku sudah mengirim datanya ke flashdiskku dan berlari ke operator untuk memutarnya seraya sang kurator menjelaskan isinya di depan para penggemar foto dan sejarah itu.

“ Siapa nama kamu?”

“Erby,  pak”

“Kamu boleh kirim cv kamu ke email saya, tapi belum tentu saya terima ya”

“Gak apa-apa pak, yang penting saya bisa kirim email ke bapak.”

Hatiku mau meledak, senyumku melebar, sepertinya sampai mengitari kepalaku sendiri.
Teman-temanku terkejut, mereka bahkan hampir tidak percaya bahwa mimpiku yang gila itu sudah ada di depan mata, bahwa pengorbananku berbuah manis. Bahwa apa yang kupertahankan tanpa alasan itu memang eksis, memang ada, dan aku tidak sedang berandai-andai bukan?

Tapi kebahagiaan ku tak berlangsung lama, setelah mengirim email, tak ada panggilan satu pun. Berminggu-minggu dan sudah satu bulan aku tanpa kepastian dan tanpa uang. Tawaran kerja di Ubud membuatku rasanya ingin sekali pergi menjauh, mungkin aku akan belajar seni rupa di Ubud. Rasanya tak ada lagi yang kutuju dan ingin kulakukan , Tuhan pasti akan membawa tubuhku pada tujuanNya yang lebih baik dan aku tak tahu apa-apa. Oke, aku ikuti permainanmu.

Sebelum bilang “Ya” pada Kota Ubud, kupasrahkan nasibku sekali lagi pada Tuhan. Aku kirimkan dua email, satu ke Ubud dan satu lagi pada kurator itu. Dalam hatiku, aku berucap, siapa yang pertama membalas email ini, padanya aku akan menuju.
Tiga menit kemudian sebuah balasan email masuk,
Saat itu aku membacanya di bawah hujan deras tanpa payung, bajuku sudah basah kuyup. Tanganku sudah mau beku saat membuka inbox email di handphoneku,

“Saya sudah terima emailmu sampai dua kali, saya sedang menyusun sistem kerja kita, kamu bisa datang ke kantor minggu depan bicara tentang jobdesk dan gaji?”

Aku sama sekali tak peduli air hujan sudah membasahi rambut dan wajahku. Malam itu aku merasa Tuhan selalu membukakan jalannya saat kita tahu jalan mana yang mau kita tuju, dan seberapa besar kita menginginkan jalan itu.

“Gw kerja jadi Kordinator Art Project gtu, gw kerja dikelilingi ribuan lukisan dari realis sampe kontemporer, kemaren gw dikasih kesempatan kurasi satu pameran tunggal seorang seniman di Kemang, lo mau dateng ?” Ujarku saat sabahat lama ku itu bertanya,

“Sudah dua puluh lima tahun, lo sudah jadi apa?”