Sabtu, 06 Desember 2014
Empati Tamako
Mereka akan berkata
kesedihanmu akan pergi
terhempas angin selatan
yang penuh debu
terbawa sampai
ufuk timur, terjauh...
Dan kau akan terdiam
bertanya dalam hati
kapan ini akan
berakhir dan terbawa sampai
ufuk timur, terjauh...
Dan kau pernah melangkahkan kaki
dan sejengkal sadar
dan melantunkan,
terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya
*Untuk yang selalu membuat jiwaku limbung, sekali ini saja aku tak ingin merindu!
Kantor Berita Antara, Pasar Baru
22 November 2014, 3.01 PM
*latepost
Senin, 24 November 2014
Seminggu yang Melankolis
Tepat seminggu lalu Ayahku ulang tahun. Biasanya jam 12 aku akan membangunkannya, mengatakan ucapan selamat ulang tahun, mencium tangannya, memeluknya dan membiarkan ia mencium kedua pipiku dengan iler yang masih menempel di pipinya. Aku akan agak menghindar dan ayahku ya tertawa saja.
Sejak ayah sakit tiga tahunan yang lalu kami jarang beli kue ulang tahun. Kue mengandung banyak kolesterol dan lemak jahat , ia juga tak doyan-doyan amat kue. Jadi, dari jauh hari ayah akan bilang untuk menghadiahi dia pulsa saja. Kadang kami kesal, "Kok pulsa sih yah?" Begitu ujarku. Ternyata di rumah membosankan. Hanya ada tv, anak-anaknya sibuk semua, pulang selalu larut malam . Ia hanya menghibur dirinya dengan ibadah, nonton tv, mendengar radio, kadang sore melihat anak-anak kecil main di depan rumah, dan menelpon teman-temannya kadang sampai pulsanya habis. Menelpon kami juga di waktu-waktu yang tidak tepat. " Apa sih ayah, ntar ah telponnya," kataku kalau terima telponnya dia saat sedang sibuk melihat lukisan-lukisan di kantor.
Sudah seminggu aku melankolia sekali, rindu benar padanya. Jam 2 saat masih menonton tv aku rindu ayah keluar dari kamar sambil dadah-dadah gak jelas ke arahku. Ia ke kamar mandi ambil wudhu untuk solat tahajud. Paling romantis kalau ingat aku harus pulang naik ojek ke rumah tapi gak bawa uang, karena ayah mengantuk dan enggan bangun hanya karena aku pulang maka ia menaruh boneka beruang pink raksasa seukuran 3/4 tubuhku di depan pintu rumah dan menaruh uang 5 ribu di atas kepala beruang. Uang itu aku pakai bayar ojek, kalau yang ini aku sampai senyum-senyum sendiri.
Ayahku waktu muda sampai sebelum sakit adalah laki-laki tinggi besar yang gagah yang selalu menonjol dimanapun dia berada. Keberaniannya dalam berinovasi apapun selalu memukau orang-orang di sekitarnya. Ia dihormati banyak orang. Saat sakit, ia kehilangan semuanya, begitu rapuh. Tapi, kalau dini hari tiba2 mati lampu aku tetap meneriakkan namanya untuk berlindung. Tidak seperti disaat kecil, ayah akan menghampiriku dan memelukku. Ayah cuma diam saja karena kakinya lumpuh sebelah karena stroke, ia hanya berkata " Kakak , kakak , sini ke kamar ayah aja!" Lalu aku loncat dan tidur dibalik punggung ayahku. Ayah akan memeluku seperti waktu kecil.
Aku kelelahan baca doa seminggu ini saking sering rindunya sama ayah. Setiap rindu katanya aku harus kirim doa.
Suatu hari, saat aku sedang patah hati aku duduk di meja makan berdua dengannya lalu tiba-tiba aku menangis. Ayah sambil minum teh cuma bilang " Kamu tuh baru kehilangan orang yang mungkin besok masih bisa dihubungi, coba ayah kehilangan bunda yang udah gak bisa diajak ngobrol lagi , gak keliatan lagi fisiknya, kamu masih beruntung nak.." Sumpah, aku terdiam saat itu bisa-bisanya menangis padahal ayah jauh lebih sedih ditinggal bunda yang sudah 23 tahun bersama, yang hanya bersama bunda ia bisa berdiskusi apapun. Ia tak lagi punya teman ngobrol satu frekuensi tapi ia tak merengek sepertiku.
Aku rindu sekali padanya, pada dadah-dadah gak jelasnya, cengir kudanya, sms dan telponnya di waktu-waktu gak tepat, nasihatnya. Dengan romantisme ayah-anak yang dicampur dengan rasa humor yang manis.
* I love you Sarayah! More and more! Kalau ayah gak tau artinya ayah bisa tanya bunda di atas sana..
Rumah, 25 November 2014
4.30 am
Sabtu, 22 November 2014
Om Ambon, Si Anak Angkat Kesayangan Ayah.
"Kita kapan makan bareng dia ya?, kalo kita lewat Menteng kita samperin yuk!. Minta traktir sekitar situ sekalian ngobrol-ngobrol. Kangen juga gw," ujarku, masih sambil mengucek mata.
Depok, 23 November 2014
4.06 PM
* Btw, menulis ini jadi kangen Ayah deh !
Minggu, 16 November 2014
Kejutan di Hampir Akhir Tahun
Selasa, 14 Oktober 2014
Pay It Forward
Akhir tahun 2013 yang lalu aku melalui sebuah perjalanan dari Cirebon, Solo, dan lalu kalau tak salah berakhir di Semarang. Paling melekat dalam ingatanku adalah pertemuanku dengan Kang Yadi mantan kenek metromini 75 jurusan Pasar Minggu - Blok M yang entah keberuntungan apa yang menghampirinya, sekarang ia menjadi salah satu pegawai di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Aku lupa-lupa ingat cerita tentang kisahnya terlempar di Cirebon dari Jakarta. Kalau tak salah, ia dengan hati tulus membantu mendorong mobil Sultan yang mogok di tengah Jalan. Keringatnya bercucuran tapi senyumnya yang selalu sumringah itu mungkin membuat Sultan berbaik hati dan memberikannya sebuah kartu nama dan sekilas tawaran, "Kamu mau kerja di Keraton?"
Dengan keberuntungan itu, ia jadi sadar harus bersyukur dan berbuat baik, salah satunya denganku yang tak kenal siapa-siapa di Cirebon. Ia mengenalkanku dengan para abdi dalem keraton, mengenalkanku dengan abdi sesepuh untuk bisa tinggal di rumahnya. Tidur dengan kamar tanpa dinding tak menyurutkanku untuk bersyukur di perjalanan ini.
Sejak perjalanan itu sampai hari ini, aku merasa berbuat baik adalah esensi dari kehidupan ini. Aku jarang bertemu orang jahat setelah perjalanan itu kecuali bos ku yang menularkan energi negatif setiap harinya sampai aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaan yang kusukai.
Lalu di Bulan Oktober 2014, aku melakukan perjalanan kembali. Dari Yogyakarta, Blitar, Ubud, sampai Gili Terawangan. Asing dan tak kenal siapa-siapa. Banyak yang terjadi selama 15 hari perjalanan darat yang aku lalui . Namun, aku hanya ingin bercerita tentang seseorang yang menyulut kepekaan hatiku kembali setelah hampir padam.
Khrisna namanya. Seorang lelaki berkulit coklat gelap, berbadan tinggi tegap, berambut gondrong dan memiliki senyum yang manis sekaligus berwibawa. Ia sama sekali tak mengenalku tapi kebaikannya mengikutiku di sisa perjalananku di Gili Terawangan. Segelas jus nanas, sepiring nasi goreng lezat ala restoran, satu kamar dengan kasur yang empuk dan besar, serta malam yang mengayunkan lagu-lagu Eagle, The Police, dan John Denver di sebuah cafe bernuansa Hawaii adalah kebaikan gratis yang ia berikan pada seorang asing sepertiku. Sesuatu yang tak bisa kubayar.
Aku meninggalkan Gili Terawangan dengan hati yang berbuih-buih, kepekaan hatiku seperti disulut, dipanaskan, oleh pertemuanku dengan lelaki baik ini. Aku menyebrang lautan dengan optimisme yang memuncak. Aku merasa harus membayarnya dengan caraku sendiri.
Dua turis asal Cina berdiri di sebelahku saat menunggu angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar. Mereka ingin ke Senggigi, ditunjukkannya sebuah alamat lengkap penginapan yang ingin mereka tuju. Bergantian kendaraan menawari mereka tumpangan dengan harga yang tak masuk akal. "Follow me, do you want to go to Senggigi with 80 thousand rupiahs?" Ujarku dengan bahasa inggris pas-pasan. Mereka mengangguk, itu harga termurah yang mereka dengar setelah lama berdiri di pinggir jalan. Aku tunjukkan kertas berisi alamat penginapan pada si supir, ia mengangguk tanda sepakat.
Mobil Carry karatan itu melaju menuju Pantai Senggigi, Gawat ternyata supir tak tahu dimana penginapannya. Ia berputar-putar tak tentu arah dan mulai menggerutu. Temanku sudah memegang GPS dan aku sibuk menranslate apa yang dibicarakan turis Cina itu kepada si supir. Aku akui penginapannya memang jauh dan masuk ke dalam pemukiman warga yang sulit dijangkau.
Kami sampai dan turun, supir meminta turis membayar 120 ribu. Turis memberinya 100 ribu dengan harapan ada 20 ribu yang akan sampai di tangannya. Si supir menyelonong masuk mobil. Aku tak suka keadaan ini, ia harus mengembalikan 20 ribu itu, kesepakatan dari awal sudah jelas dan alamat penginapan sudah disetujui dengan anggukan. Harusnya ia tahu jalan. Aku mendebatnya di bawah matahari Senggigi yang terik. Di kepalaku saat itu, berseliweran wajah Mas Khrisna dan kebaikannya aku merasa bisa membayarnya dengan mengembalikan 20 ribu ini ke turis tadi. Setelah lama berdebat, supir tadi mengeluarkan 20 ribu dengan muka masam, aku menyambarnya dan memberikan pada pasangan turis Cina itu, aku disambut dengan salaman dan kata terimakasih yang sampai hari ini tak bisa kulupakan rasanya.
Aku membayar kebaikan Mas Khrisna dengan memberikan kebaikan pada orang lain. Aku pulang ke Jakarta dengan membawa sebuah bekal yang berarti, sebuah pelajaran bahwa tak ada alasan kita untuk tak menjadi orang baik hati.
Itu saja,
Manggarai 16 Oktober 2014
Di dalam kereta 8.05 PM
Rabu, 24 September 2014
Tak Ada Judul (2)
Ada banyak orang yang memilih bertahan pada hal-hal tak masuk nalar.
Bertahan pada cita-cita yang dari kecil sudah menjalar atau mungkin pada cinta lama yang membuat matamu selalu nanar.
Disakiti terus menerus akan membuatmu menjadi manusia paling kebal sedunia. Itu pikirku.
Pernah suatu hari, aku berjalan cepat bahkan sampai berlari ribuan langkah. Untukku apa yang ada di belakang tak lagi menarik. Aku punya kekuatan yang membuat diriku sendiri pun terkejut bisa berlari sekuat itu. Aku bahagia, hidupku bagai kapas atau mungkin seperti minum whisky di malam buta. Ringan dan melayang.
Aku hampir saja memegang sesuatu di depanku dan teriak "finish!" sampai suatu saat, di satu waktu teriakan memanggilku. Suara yang begitu familiar. Ia lantang meneriakkan namaku tapi kerongkongannya seperti bergetar, aku terlalu mengenalnya sampai tali yang melintang di depanku terasa jauh. Tubuhku lemas tak mampu berdiri, aku berhenti, diam, sambil merasakan suaranya yang mengandung sendu dan sunyi.
Aku menengok ke belakang, jantungku berdetak cepat, ludahku lebih sering kutelan dari biasanya, mataku tertuju pada satu titik, dan suaraku terdengar samar oleh telingaku sendiri, "Ada apa? " itu seingatku kata yang keluar dari bibirku yang bergetar karena gugup. Kupertaruhkan ribuan langkahku, kupertaruhkan garis finish yang makin kabur itu. Aku lari ke belakang tanpa henti. Memegang tangannya, membantunya berdiri, dan menemaninya berjalan. Atas inginku sendiri.
Kupertaruhkan masa depanku untuk masa lalu. Bukan sekedar masa lalu, tapi masa lalu yang tak pernah berhenti berputar di kepalaku dan bergejolak di hatiku. Masa lalu yang kupaksa masuk kardus, padahal kardusnya tak pernah muat. Oleh sebab itu, ia menyembul-nyembul keluar dari apa yang ingin sekali kututup saat itu.
Aku selalu ingin menemaninya berjalan biarpun ia terseok dan aku tegap atau bahkan ia tegap dan aku terseok.
Aku terseok-seok pada apa yang sudah berubah. Pada apa yang tak lagi manis, pada apa yang sekeras batu.
Ia batu dan aku hujan.
Aku air yang jatuh diatasnya sampai ia menjadi lembut dan rapuh seperti pertama kali kami bertemu.
Batu yang jadi pasir, yang tergenggam pada tangan. Tangan yang tak lagi punya daya untuk memegangnya erat, karena terlalu kuat akan membuatnya keluar dari sela-sela jari dan menghilang tak tertangkap mata. Tanganku akan menengadah seperti melakukan ritus doa. Membiarkannya diam diatasnya sebagai pasir yang lembut.
Lembut seperti mimpi yang dulu dirajut, lembut seperti ombak kecil di pinggir pantai, lembut seperti semilir angin di bawah pohon, lembut seperti lelaki penyabar dengan senyum manis yang pernah aku genggam tangannya ribuan hari yang lalu
Depok, 25 September 2014
2.42 AM
Kamis, 28 Agustus 2014
Matahari dan Sahabat Lama
"Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.
Matahari memang tidak pernah merasa berbuat sesuatu dalam urusannya dengan pohon dan bunga..."
Aku tak tahu persis apakah cuplikan puisi diatas adalah deret kata dalam puisi yang sama karya Sapardi Djoko Damono. Judulnya aku lupa dan aku malas mencari di internet karena sinyalnya naik turun. Tapi kata-kata diatas indah dan manis. Ia bercerita tentang matahari yang tak pernah pamrih dan tak pernah marah.
Mengingat matahari menurutku selalu identik dengan datang dan pergi. Ia datang lalu pergi. Ada yang begitu menanti, ada juga yang tak terlalu peduli. Matahari yang membawa siang dan mengantarkan malam itu toh selalu hadir sampai mitos terompet sangkakala akan terdengar berbunyi kencang, entah kapan, yang pasti dunia sekitarmu akan terus-menerus malam dan jutaan partikel pasir beterbangan memenuhi pandangan, tenggorokan, sampai menyesak ke paru-paru.
Aku baru saja kedatangan seorang sahabat lama yang menelponku di tengah padatnya pekerjaan, nomor telpon tak dikenal, suara yang samar-samar terlupa, sampai terpaksalah aku bilang "Hmm, ini siapa ya?" .
Kami lalu janjian di tempat minum kopi di Kalibata. Ia pergi tiga tahun lalu dengan begitu banyaknya masalah dalam hidupnya. Hari ini dia kembali mengumpulkan sembilan sahabatnya dan berkata "Hidup gw sudah baik-baik saja" . Siapa bilang selama tiga tahun ditinggal tanpa kabar kami tak kesal. Kami sampai memilih diam karena saking kesalnya mencari kabar ia darimana-mana. Tapi, toh kami datang kembali biarpun perasaan sedikit kesal itu masih ada, salah satu dari kami lalu bertanya di tengah keheningan malam itu, "Lo pernah kangen kita gak sih? Lo pernah pengen tahu kabar kita kayak kita yang pengen tahu kabar lo?" . Akhirnya pertanyaan itu keluar juga ditengah tawa-tawa nostalgia kami.
Semua diam menunggu jawaban, "Gw selalu nanya kabar kalian lewat temen yang dateng ke rumah gw, gw tahu udah terlalu lama pergi, gw gak enak dateng lagi."
Sahabat tidak pernah pergi semudah itu. Kami masih di tempat yang sama, menunggunya menyapa kami kembali.
Temu Kangen
Phoenam Cafe 23 Agustus 2014.
Untuk Rendy, sahabat kami...
Kamis, 10 Juli 2014
Aku Baru Saja Ingat.
Aku baru saja ingat, ini tepat tanggal sebelas Juli. Bukan tanggal sebelas biasanya.
Hari ini pernah jadi hari yang kita tunggu- tunggu. Harapan selalu tumpah ruah ketika jarum jam sudah berdentang 12 kali. Kita rebutan mengucap selamat. Selamat tanggal sebelas.
Kita selalu merayakannya dengan pewangi ruangan, obat nyamuk elektrik, satu pak tisu dan terkadang sebotol dua botol bir bintang. Kita merayakannya di atas tempat tidur sambil berkata bisik-bisik tanpa busana. Selamat tanggal sebelas.
Melewati sebelas tanggal sebelas tanpamu adalah siksaan neraka ke enam. Hanya ada pesan bertuliskan "apa kabar? " lalu berakhir diam.
Hari ini, aku tiba-tiba ingat ini hari apa dan kita sedang bersama. Aku tiba-tiba seperti dibenamkan masa lalu dan masuk ke neraka ke enam. Aku diam melihatmu, disampingku, berdiri, di bawah langit bendungan hilir.
Lima jam mendengarmu berdongeng tentang konstelasi politik. Berjalan kaki dari karet menuju benhil. Makan pecel ayam terenak di Jakarta hasil pencarian di internet. Menemanimu wawancara adik calon presiden. Menungguimu mengetik tumpukan berita demi loyalitas.
Kita sudah merayakannya bersama, tanpa kita sadari.
Kita masih selalu ada.
Tanggal sebelas Juli juga akan selalu ada.
Yang berbeda adalah, kita mau kemana?
Antasari. 11 Juli 2014
Rabu, 25 Juni 2014
Dunia Memang Aneh
Dunia memang aneh.
Dua orang yang dulu pernah sedetak nadi bisa dibuatnya berjarak jauh sekali.
Dunia memang aneh.
Dua orang bisa dibuatnya berpisah,
Bukan karena saling benci, tapi bahkan karena saling cinta.
Dunia memang aneh.
Dua orang bisa terkena cemas berhari-hari karena rindu yang mereka tutup-tutupi sendiri.
Dunia memang aneh.
Dua orang yang saling mengait hati tak dijamin akan saling berbagi cerita sampai mati.
Dunia memang aneh.
Dua orang yang setiap hari saling mencari bisa dibuatnya sekarang saling membelakangi.
*Mengutip dari akun twitter milik sendiri
Tertanggal 23 November 2013
Kamis, 12 Juni 2014
Lagi-lagi sebelas
Aku tak pernah habis pikir bagaimana sebuah hati yang melewatkan banyak waktu untuk berhati-hati masih saja dengan kuat terkait dengan sebuah hati yang ada entah dimana sekarang.
Setiap akan tanggal 11 dan setelah tanggal 11 baru saja lewat hati ini begitu gelisah. Sebuah rindu yang tak pernah diusung maju ke depan, hanya diam diam dipendam sembari mendengar lagu-lagu kenangan dan membuka kembali file-file gambar lama.
Anehnya di tanggal lain aku hampir tak merasakan apapun. Tapi kalau hatiku mulai gelisah dan tiba-tiba melamun dan tanpa sengaja (atau disengaja) memutar-mutar lagu Mr. Lennon aku rasanya ingin langsung lihat kalender dan benar saja saat kulihat kalender di handphone saat itu ya kalau tidak tanggal 10 pasti tanggal 12 dan aku hanya bisa menghela nafas.
Aneh juga, pikirku..
Di sekitaran tanggal itu juga biasanya sebuah pesan datang entah menanyakan kabar atau pertanyaan-pertanyaan aneh yang tautologis. Kadang aku berpikir apakah disana si pengirim pesan merasakan kegelisahan yang sama ya setiap akan tanggal 11.
Mungkin sudah terlalu banyak tanggal 11 yang kami lewati sampai ada energi yang begitu kuat di tanggal itu yang harus kami (tepatnya aku) hadapi. Ya aku tidak sendiri, dan ia tidak sendiri juga. Dari jarak sejauh apapun kami masih saling menguatkan biarpun hanya lewat mantra-mantra doa.
Semoga ia dimanapun berada punya kebahagiaan dan langkah yang kuat menghadapi jalan yang makin hari makin terjal.
Dan semoga ia tak punya waktu untuk baca tulisan ini.
Rabu, 28 Mei 2014
Tak Ada Judul
Tak kunjung selesai jalan merindu engkau wahai tuan pemenuh hati
Tak kuat hamba menuntun rasa yang lantas terlalu sering timbul namun terlalu sering pula tenggelam.
*untuk yang tak henti-hentinya diingat.
Jumat, 02 Mei 2014
Dasar gila
Dasar gila!
Iya kau paling bisa membuatku gila
Menunggu pesan datang lewat angin, jari-jari, matamu dan apa saja , apa saja..
Dasar gila!
Iya aku gila dengan setia menunggu pesanmu lewat angin, jari-jari, matamu dan apa saja, apa saja..
Depok, Ruang karaoke.
2 Mei 2014, 12.15 am.
Dan sedang menunggu pesanmu (lagi)
Senin, 14 April 2014
Hanya Isyarat
*penggalan paragraf dalam cerita Hanya Isyarat (Rectoverso, Dewi Dee Lestari)


