*penggalan paragraf dalam cerita Hanya Isyarat (Rectoverso, Dewi Dee Lestari)
Senin, 14 April 2014
Hanya Isyarat
“Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.”
*penggalan paragraf dalam cerita Hanya Isyarat (Rectoverso, Dewi Dee Lestari)
*penggalan paragraf dalam cerita Hanya Isyarat (Rectoverso, Dewi Dee Lestari)
Selasa, 08 April 2014
Ah, Masa?
Kalau kau bilang kau benci dari ujung kaki sampai ujung
kepala, lalu masih saja peduli kalau dia cerita, apa itu namanya?
Namanya kau sedang menyangkal.
Ah, masa?
Aku bisa pastikan aku tak lagi mengeluarkan air mata ataupun
menyembunyikan mata yang berkaca-kaca. Aku pernah berjanji untuk tak
mengeluarkan kata tapi mendengar dia bercerita layaknya teman yang sudah
lama tak jumpa, aku tak bisa menyembunyikan tawa.
Lalu kami pun tertawa,
bersama..
Aku pernah enggan membalas pesan. Memasukkan ceritanya dari
kuping kiri lalu keluar di kuping kanan. Semuanya demi aku mau berjalan. Tapi
ia menarikku pelan-pelan dan membuatku merasa ada di dalam pelukan. Pelukan
yang sarat kenangan.
Tapi, aku tak mudah dibodohi biarpun kami sempat menjalani
kebodohan sekian lama. Aku sudah dengan lihai membalik rasa, mengurai lara,
menjaga kata, dan menelan mentah-mentah asa.
Apa yang kau rasa?
Aku sangat ingin menanyakan itu di depan matamu dalam jarak
sejengkal. Dalam jarak segitu pula kita pernah saling berperilaku binal. Lalu
sekarang kita kesal dan merasa tak saling kenal.
Aku pikir sekarang kau hanya seseorang yang lari dari satu
keramaian ke keramaian yang lain. Apa kau tak tahu bahwa aku sangat mengenalmu,
aku mencium wangi kesepian di dalam badan, Badanmu.
Kenapa kita tak duduk berhadapan, saling bertatapan dan
berkata
“Apa kita sedang terjebak kenangan? “ ,
“Kenapa kau masih saja mengirim pesan?” ,
“Kenapa aku masih menangguhkan kekesalan?”
“Apakah kau akan datang di masa depan?”
“Apakah kita akan selalu saling jadi batu sandungan?”
“Apa kau rindu kita tertawa di trotoar jalan?”
“Apakah kita akan mengulang kebodohan yang kita ciptakan?”
“Apakah kita akan saling menjauh sampai 100 tahun ke depan?”
Kau tidak sedang menyangkal?
Ah, masa?
Senin, 07 April 2014
JATUH CINTA PADA JARI-JARI TAK DIKENAL
Percaya jatuh cinta pada
pandangan pertama?
Aku percaya.
Aku pernah jatuh cinta pada sebuah nama sansekerta di sebuah
kertas berisi rentetan nama mahasiswa baru. Saat seorang senior memanggil
namanya, leherku hampir patah karena dengan cepat menengok. Beberapa waktu
kemudian aku memacarinya.
Aku pernah jatuh cinta pada sesosok lelaki di sebuah
majalah. Memandanginya dari malam ke
malam. Dalam hati aku tahu suatu hari kami akan punya hari-hari bersama. Kurang
lebih satu tahun kemudian, kami pacaran bertahun-tahun.
Aku pernah jatuh cinta dengan seseorang di pinggir danau
yang duduk membakar ganja pagi-pagi buta, hanya karena dia memakai jaket hijau
tua dan sepatu dengan mode yang kusuka. Aku mengajaknya berbicara dan kami suka
menghabiskan tawa bersama.
Kali ini aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan
jari-jari yang tak dikenal di dalam kopaja.
Aku sedang tak peduli sekitar, hatiku sedang kacau balau.
Tapi aku berdiri mematung, terkesiap dengan hati bergetar hebat. Tubuhku lemas seketika.
Jari-jari itu mendarat tepat di sebelah jari-jariku yang memegang pegangan
kursi yang hampir semua karat.
Aku hanya memandangi jari-jari itu, jari-jari yang membuatku
nostalgia. Cara dia memegang kursi, cara dia mengetuk langit-langit bis kopaja
mengingatkanku pada seseorang. Aku tak berani melihat wajahnya. Aku perlahan
memandangi kemeja yang ia pakai, seingatku warnanya biru. Rahangnya tegas dan khas,
matanya sipit padahal bukan orang cina, matanya tajam dan dalam. Ia serius dan
misterius. Sebuah kesan yang membuat pikiranku langsung baur.
Ia turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Aku rasanya
ingin turun dan menanyakan namanya. Tapi aku takut disangka gila. Ia turun dan
aku seperti melambaikan tangan pada harapan yang absurd.
Esoknya aku sengaja naik bis di jam yang sama biarpun aku
telat dua jam dari waktu masuk kerja. Tapi sosoknya tak kuutemui lagi. Kerja
apa dia jam 11 baru sampai kantor? Aku yakin suatu hari aku akan bertemu
dengannya lagi. Wajahnya membuyarkan apa yang mau aku kerjakan setiap hari. Dua
bulan berlalu aku tak lagi bertemu pandang dengannya.
Suatu hari aku telat lagi masuk kerja, masuk ke dalam bis
dan memandangi jalanan dari balik kaca-kaca retak. Lagu-lagu Pink Floyd
berkumandang di headset yang kusumpal
di dalam telinga. Sosok yang kukenal melewatiku dan turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Ia muncul tanpa firasat. Aku terkejut dan kesempatan seketika
terlewat. Mobil –mobil yang berdesakan padat, hanya mempersilakan mataku melihat
kemana ia berjalan setelah turun di pertigaan jalan. Aku tak tahu apakah kami
akan bertemu lagi. Hatiku masih bergetar hebat dan tanganku mulai dingin.
Sehari setelahnya aku tak sempat berdandan. Rambutku masih basah,
bajuku masih baju kemarin, Aku masuk bis dengan muka masih ingin tidur. Ia ada
di kursi paling belakang dengan kemeja coklat dan tatapan mata yang lekat. Aku
berbalik badan, melihatnya lama-lama aku tak kuat. Dia hanya akan melihat
punggungku dan diam-diam aku tersenyum kaku. Sudah tiga kali kami bertemu,
rasanya ini bukan saja perihal kebetulan.
Senin dan Rasa
Penasaran Yang Mau Meledak Dari Kemarin.
Orang akan bilang aku gila kalau aku bilang bahwa aku jatuh
cinta pada sosok yang tak kukenal. Yang hanya akan kutemui kalau aku terlambat
pergi bekerja. Aku merasa ada yang berbeda, semesta tak akan membuatku penuh
rasa penasaran sepert ini kalau aku dan dia tidak punya korelasi. Hari ini atau
nanti.
Sehari sebelum hari Senin aku naik vespa dibonceng teman.
Aku masuk belokan Kemang Selatan menelusuri satu persatu rumah yang tak ada
tanda-tanda sebuah kantor terletak disana. Aku bertanya dari satu orang ke orang lain di pinggir
jalan. Apakah ada sebuah kantor yang bisa menjadi penunjuk jalan aku mengetahui
namanya. Hasilnya nihil.
Senin, aku naik vespa dibonceng teman. Melihat satu persatu
orang turun dari dalam kopaja di depan pom bensin Kemang Selatan. Tak kutemui
sosoknya di jalanan. Sudah pukul 11, harusnya ia sudah hadir di depan mataku
dan menyusup masuk ke otakku. Mungkin aku terlambat.
Pukul setengah 12 dan langkahku sudah gontai. Aku langkahkan
kakiku masuk ke sebuah convenience store
membeli sebotol yoghurt rasa anggur merah. Dalam bayanganku aku menenggak juga
anggur merah, mabuk dan lupa dengan sosok tak kukenal itu. Tepat ketika aku
keluar, seseorang masuk ke dalam tempat yang sama . Seseorang dengan rahang
yang tegas dan khas, mata yang sipit tapi bukan orang cina. Seseorang dengan
jam di tangan kanan dan mata yang yang tak bisa aku deskrpsikan ketajamannya.
Ia masuk tanpa memerhatikan sekitarnya . Aku terpaku, kakiku terkait pada aspal
jalan.
Jantungku berdetak cepat ,memilih pergi ke kamar mandi dan
hap! dia hilang ditelan bumi.
Aku sepetinya mulai gila, ujar sahabatku yang sudah
kepanasan menungguku mengejar sosok absurd di dalam kopaja, Katanya mungkin aku
hanya berhalusinasi atau mungkin aku terlalu banyak menonton film prancis yang
suka sekali mengangkat tema dengan cerita-cerita seperti yang aku lakukan ini.
Sepertinya memang iya, jatuh cinta memang kadang membuatmu
gila. Cinta bisa membuat Romeo dan Juliet dengan bodohnya minum racun
seakan-akan mereka akan ada di surga yang sama nantinya.
Jatuh cinta bisa membuat hatimu bertekuk lutut bahkan pada
jari-jari yang tak dikenal.
TB. Simatupang, 8 April 2-14
2.49 AM
Langganan:
Komentar (Atom)