Kamis, 04 Februari 2016

Aku Pemabuk Baik-Baik

Tanggal sepuluh bulan lalu, aku ulang tahun. Dua puluh tujuh tahun. Aku sejujurnya terkejut menginjak usia segitu. Dua puluh tujuh tahun adalah usia yang begitu dewasa. Padahal, jauh di dalam kepribadianku, aku masih anak kecil.

Aku masih seseorang yang diam-diam cuci tangan di mesin dispenser. Seseorang yang mengupil di manapun aku berada. Seseorang yang suka bicara sendiri saat jalan kaki dari Stasiun Kalibata ke Pancoran Timur Dua. Satu hal yang berubah , aku sekarang tukang mabuk.

Minuman favoritku : Anggur Merah Cap Orang Tua! Manis.

Saat jaman kuliah, aku dan teman-teman satu angkatan hobi sekali minum anggur merah di kantin atau kosan teman. Tapi, aku tak pernah merasakan kenikmatannya. Ternyata oh ternyata mabuk itu nikmat saat kau menari. Ya, menari!

Dulu saat minum anggur merah aku akan duduk saja, mengobrol ngalor ngidul lalu ambruk, dan melamun. Saat sadar , dalam diriku menyisa kesedihan-kesedihan yang  tak kukenali. Aku punya teman-teman yang suka minum, tapi saat itu aku tak punya teman-teman yang suka pesta.

Bekerja di dunia seni membuatku sadar, aku dikelilingi para pecinta pesta , penari dan penyanyi amatir, mereka menyanyi sampai membuat telingamu berdenging tapi tak ada yang peduli. Mereka menari tak henti-henti . Naik ke atas kursi lalu meja. Tak ada yang perhatikan. Semua sama, semua menyanyi sampai telinga teman sebelahnya berdenging, semua menari tak henti-henti. Apa adanya saja ,tak ada yang ingin disangka apa. Aku dan mereka hanya ingin berpesta.

Menariknya, Aku sebenarnya menyimpan gelagat tukang pesta dari kecil. Tapi , teman-teman terdekatku tak pernah jadi rekan pesta yang handal. Tahun lalu, aku seperti menemukan rekan pesta yang membuatku ingin menari tanpa dihakimi dengan pandangan apapun. Ini bukan pesta yang isinya sekumpulan perempuan berbaju terbuka yang meniru tarian seksi ala acara-acara klub malam di televisi. Pesta ini diisi dengan orang-orang yang berajojing dengan sepatu kets, kaos oblong, dan celana pendek. Gerakannya kadang culun punya tapi kami pastikan tubuh kami anti diam saja. Sebentar-bentar kami minum anggur merah lalu memadukannya dengan bir yang sudah kami simpan dua-tiga jam di kulkas.

Minum beberapa gelas saja sembari tubuh bertandak kesana kemari, efek melayang akan segera terasa. Aku setengah sadar, setengah tidak. Biasanya aku hanya akan menyanyi lagu ABBA atau Queen dengan not yang keluar-keluar dari garis paranada. Fals.

Pengalaman telerku yang paling membuatku tertawa adalah ketika di sebuah pesta  tanpa sadar aku selalu bicara dengan Bahasa Inggris, setiap orang yang bicara denganku dengan Bahasa Indonesia aku akan menjawabnya dengan Bahasa Inggris. Aku sadar hal itu dan dengan mudah menyiapkan jawaban berbahasa Indonesia dalam otakku. Tapi, entah mengapa bibirku melontarkannya lagi-lagi dalam Bahasa Inggris. Padahal aslinya, Bahasa Inggrisku katro. Anehnya, malam itu aku punya kemampuan excellent. Alhasil esoknya, cerita itu bergaung dari satu ruangan ke ruangan lain di kantorku.

Aku pemabuk baik-baik. Pemabuk yang setia pada batasan. Mabuk dengan semangat “anak kecil”ku. Mabuk dengan kelakuan-kelakuan aneh yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Rekan-rekan pestaku menyenangkan, mereka minum untuk tertawa, tidak lebih tidak kurang.  Mereka seperti bocah-bocah yang rindu tertawa lepas setelah seharian berkutat dengan ide dan konsep berkesenian yang makin absurd.


Aku sempat berpikir, apakah aku sudah jadi anak nakal? Ah, tidak juga.