Tanggal sepuluh bulan lalu, aku ulang tahun. Dua puluh tujuh
tahun. Aku sejujurnya terkejut menginjak usia segitu. Dua puluh tujuh tahun
adalah usia yang begitu dewasa. Padahal, jauh di dalam kepribadianku, aku masih
anak kecil.
Aku masih seseorang yang diam-diam cuci tangan di mesin
dispenser. Seseorang yang mengupil di manapun aku berada. Seseorang yang suka
bicara sendiri saat jalan kaki dari Stasiun Kalibata ke Pancoran Timur Dua.
Satu hal yang berubah , aku sekarang tukang mabuk.
Minuman favoritku : Anggur Merah Cap Orang Tua! Manis.
Saat jaman kuliah, aku dan teman-teman satu angkatan hobi
sekali minum anggur merah di kantin atau kosan teman. Tapi, aku tak pernah
merasakan kenikmatannya. Ternyata oh ternyata mabuk itu nikmat saat kau menari.
Ya, menari!
Dulu saat minum anggur merah aku akan duduk saja, mengobrol
ngalor ngidul lalu ambruk, dan melamun. Saat sadar , dalam diriku menyisa
kesedihan-kesedihan yang tak kukenali.
Aku punya teman-teman yang suka minum, tapi saat itu aku tak punya teman-teman
yang suka pesta.
Bekerja di dunia seni membuatku sadar, aku dikelilingi para
pecinta pesta , penari dan penyanyi amatir, mereka menyanyi sampai membuat
telingamu berdenging tapi tak ada yang peduli. Mereka menari tak henti-henti .
Naik ke atas kursi lalu meja. Tak ada yang perhatikan. Semua sama, semua
menyanyi sampai telinga teman sebelahnya berdenging, semua menari tak
henti-henti. Apa adanya saja ,tak ada yang ingin disangka apa. Aku dan mereka
hanya ingin berpesta.
Menariknya, Aku sebenarnya menyimpan gelagat tukang pesta
dari kecil. Tapi , teman-teman terdekatku tak pernah jadi rekan pesta yang
handal. Tahun lalu, aku seperti menemukan rekan pesta yang membuatku ingin
menari tanpa dihakimi dengan pandangan apapun. Ini bukan pesta yang isinya sekumpulan
perempuan berbaju terbuka yang meniru tarian seksi ala acara-acara klub malam di
televisi. Pesta ini diisi dengan orang-orang yang berajojing dengan sepatu
kets, kaos oblong, dan celana pendek. Gerakannya kadang culun punya tapi kami
pastikan tubuh kami anti diam saja. Sebentar-bentar kami minum anggur merah
lalu memadukannya dengan bir yang sudah kami simpan dua-tiga jam di kulkas.
Minum beberapa gelas saja sembari tubuh bertandak kesana
kemari, efek melayang akan segera terasa. Aku setengah sadar, setengah tidak.
Biasanya aku hanya akan menyanyi lagu ABBA atau Queen dengan not yang
keluar-keluar dari garis paranada. Fals.
Pengalaman telerku yang paling membuatku tertawa adalah
ketika di sebuah pesta tanpa sadar aku
selalu bicara dengan Bahasa Inggris, setiap orang yang bicara denganku dengan
Bahasa Indonesia aku akan menjawabnya dengan Bahasa Inggris. Aku sadar hal itu
dan dengan mudah menyiapkan jawaban berbahasa Indonesia dalam otakku. Tapi,
entah mengapa bibirku melontarkannya lagi-lagi dalam Bahasa Inggris. Padahal
aslinya, Bahasa Inggrisku katro. Anehnya, malam itu aku punya kemampuan excellent.
Alhasil esoknya, cerita itu bergaung dari satu ruangan ke ruangan lain di
kantorku.
Aku pemabuk baik-baik. Pemabuk yang setia pada batasan.
Mabuk dengan semangat “anak kecil”ku. Mabuk dengan kelakuan-kelakuan aneh yang
membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Rekan-rekan pestaku menyenangkan, mereka
minum untuk tertawa, tidak lebih tidak kurang.
Mereka seperti bocah-bocah yang rindu tertawa lepas setelah seharian
berkutat dengan ide dan konsep berkesenian yang makin absurd.
Aku sempat berpikir, apakah aku sudah jadi anak nakal? Ah,
tidak juga.