Aku pernah menulis asal usul dari tulisan ini.
Sekitar tahun 2014. Di sini : Jatuh Cinta Pada Jari-Jari Tak
Dikenal . Jadi ada baiknya, kamu baca tulisanku yang itu
dulu dan baru menikmati tulisanku yang ini.
Aku masih ingat jari-jari itu,
Jari-jari tak dikenal di kursi Kopaja Pasar Minggu –
Blok M, tiga tahun lalu.
Tapi aku mengenalinya tanpa ragu, saat jari-jari itu
berada begitu dekat dengan jari-jariku di sebuah pernikahan sejawat kami.
Sebulan yang lalu.
Susah memang kalau kita menyukai tipe wajah yang
itu-itu saja, tipe potongan rambut yang itu-itu saja, bentuk badanya yang
begitu melulu, dan cara menulis yang seperti itu lagi, seperti itu lagi. Waktu
itu sore, di belakangku, sejawatku sedang ijab kabul. Aku membelakangi mereka
karena tahu prosesi ijab kabul pasti begitu-begitu saja. Ada yang melintas
dengan muka tak bersahabat. Bibirnya katup, matanya tajam dan sipit tapi tidak
seperti orang cina. Aku menyukainya detik itu juga. Mataku mengikuti
gerak tubuhnya . Hiruk pikuk pernikahan sama sekali tenggelam dalam
sore itu. Seakan-akan tempat itu kosong, sepi, hanya ada aku dan dia
dengan wajahnya yang tak bersahabat itu.
Aku berdiri di samping sebuah meja , dari tempat itu
aku akan lihat dia dengan jarak lebih dekat. Tak ada senyum di bibir itu
biarpun aku menyapanya lewat mataku yang sengaja kuarahkan ke matanya. Dingin
sekali. Ia menulis sebuah pesan untuk kedua mempelai. Aku memerhatikan
jari itu, lekat-lekat. Saat menulis, dia memasukkan jempolnya ke belakang
telunjuk, termasuk cara yang tak lazim. Lalu, aku tertawa terbahak-bahak,
besar-besar, tidak henti-henti, tidak di depannya tapi di dalam hatiku.
“Hai kamu! jari-jari yang pernah membuatku disangka
pengidap halusinasi! Bersama kenangan akan jarimu-jarimu aku melewati perasaan
yakin, tak yakin, yakin, lalu mulai menyangka bahwa aku memang berhalusinasi!
Dasar kamu! Aku tak menyangka setelah lebih dari seribu hari berlalu, kita akan
bertemu lagi. Teman kita sama ternyata. Aku tak pernah lupa wajahmu. Pantas
saja aku merasa suka sejak melihatmu dari detik pertama. Persis sama dengan
perasaanku saat kita berdiri bersebelahan di dalam kopaja saat pergi ke
kantor dulu. Hidup bekerja terlalu absurd, atau malahan tak pernah sama
sekali berantakan? Tapi malahan polanya sangat teratur. Mempertemukan apa yang
pernah terpisah jauh. Memercayai kalau apa yang terjadi di suatu hari akan
punya alasan di hari yang lain,
Jarimu itu agak berbeda sekarang, ada cincin di jari
manis tangan kananmu. Itu tandanya, hidup tak bergerak sejajar dan tepat waktu
untuk kita. Kamu sudah berjalan jauh melampauiku. Aku tidak pernah menyesal
sebegitunya, aku hanya geli saja karena tak pernah terlintas bahwa kita
sekarang akan berjarak sejengkal dua jengkal seperti dahulu. Aku hanya ingin
memandangimu saja semalaman ini, lebih lama daripada yang pernah aku lalukan
saat bertemu kamu dulu.
Aku hanya ingin memandangimu dan tahu namamu.
Aku akhirnya tahu...
namamu,
Aku lihat saat kamu menulis pesan untuk teman sejawat
kita. Namamu Koko. Kependekan dari Handoko.
Apakah aku boleh tertawa terbahak-bahak? besar-besar
dan tidak henti-henti, sekali lagi? Kali ini tak kutujukan padamu. Tapi pada
hidup yang sedang menunjukkan selera humornya padaku hari itu".
Rumah, 09 Juni 2017, 1.03 PM