Rabu, 24 September 2014

Tak Ada Judul (2)

Ada banyak orang yang memilih bertahan pada hal-hal tak masuk nalar.
Bertahan pada cita-cita yang dari kecil sudah menjalar atau mungkin pada cinta lama yang membuat matamu selalu nanar.

Disakiti terus menerus akan membuatmu menjadi manusia paling kebal sedunia. Itu pikirku.

Pernah suatu hari, aku berjalan cepat bahkan sampai berlari ribuan langkah. Untukku apa yang ada di belakang tak lagi menarik. Aku punya kekuatan yang membuat diriku sendiri pun terkejut bisa berlari sekuat itu. Aku bahagia, hidupku bagai kapas atau mungkin seperti minum whisky di malam buta. Ringan dan melayang.

Aku hampir saja memegang sesuatu di depanku  dan teriak "finish!" sampai suatu saat, di satu waktu teriakan memanggilku. Suara yang begitu familiar. Ia lantang meneriakkan namaku tapi kerongkongannya seperti bergetar, aku terlalu mengenalnya sampai tali yang melintang di depanku terasa jauh. Tubuhku lemas tak mampu berdiri, aku berhenti, diam, sambil merasakan suaranya yang mengandung sendu dan sunyi.

Aku menengok ke belakang, jantungku berdetak cepat, ludahku lebih sering kutelan dari biasanya, mataku tertuju pada satu titik, dan suaraku terdengar samar oleh telingaku sendiri, "Ada apa? " itu seingatku kata yang keluar dari bibirku yang bergetar karena gugup.  Kupertaruhkan ribuan langkahku, kupertaruhkan garis finish yang makin kabur itu. Aku lari ke belakang tanpa henti. Memegang tangannya, membantunya berdiri, dan menemaninya berjalan. Atas inginku sendiri.

Kupertaruhkan masa depanku untuk masa lalu. Bukan sekedar masa lalu, tapi masa lalu yang tak pernah berhenti berputar di kepalaku dan bergejolak di hatiku. Masa lalu yang kupaksa masuk kardus, padahal kardusnya tak pernah muat. Oleh sebab itu, ia menyembul-nyembul keluar dari apa yang ingin sekali kututup saat itu. 

Aku selalu ingin menemaninya berjalan biarpun ia terseok dan aku tegap atau bahkan ia tegap dan aku terseok.

Aku terseok-seok pada apa yang sudah berubah. Pada apa yang tak lagi manis, pada apa yang sekeras batu.

Ia batu dan aku hujan.
Aku air yang jatuh diatasnya sampai ia menjadi lembut dan rapuh seperti pertama kali kami bertemu.

Batu yang jadi pasir, yang tergenggam pada tangan. Tangan yang tak lagi punya daya untuk memegangnya erat, karena terlalu kuat  akan membuatnya keluar dari sela-sela jari dan menghilang tak tertangkap mata. Tanganku akan menengadah seperti melakukan ritus doa. Membiarkannya  diam diatasnya sebagai pasir yang lembut.

Lembut seperti mimpi yang dulu dirajut, lembut seperti ombak kecil di pinggir pantai, lembut seperti semilir angin di bawah pohon, lembut seperti lelaki penyabar dengan senyum manis yang pernah aku genggam tangannya ribuan hari yang lalu

Depok, 25 September 2014
2.42 AM