Sabtu, 01 Oktober 2016

Aku Memilih Jalan Kaki

Kalau aku sedih , aku memilih berjalan kaki sejauh yang kubisa.
Sambil berjalan air mataku menetes. Untungnya tak ada yang lihat.

Aku ingin lelah sampai rumah sampai lupa untuk menangis. 
Tidur dan melakukannya esok lagi.

Kakiku sakit, hatiku juga. Orang lebih suka melihatku tertawa jadi aku tak punya tempat menangis kecuali di jalan-jalan sepi itu.

Kakiku sedikit cacat jadi jalanku tak seimbang. Saat Jalan jauh, telapakku perih. Siapa peduli? Untungnya tak ada yang lihat.

Bertahun-tahun lalu, saat kesedihan tiba,  aku jalan kaki dari  Bintaro ke Stasiun Palmerah, dari Margonda Raya ke Depok Baru, dari Dharmawangsa ke Jembatan Antasari.

Sekarang, aku mengitari bekas kampusku tiap malam. Tiap pulang kerja, agar aku bisa puas menangis lalu tidur dan melakukannya esok lagi.

Saat aku menikmati ini semua, aku tahu aku sedang sangat sedih.




Depok, 2 Oktober 2016

Minggu, 13 Maret 2016

Potong Rambut Setitik, Batal Acara Makan-Makan Pakai Belanga

Beberapa hari lalu aku potong rambut bergaya Amelie Poulain. Dia adalah tokoh utama dalam film Amelie (2001), film perancis favoritku sepanjang masa yang aku putar belasan kali dan belum bosan. Punya rambut seperti Amelie sudah menjadi keinginan yang kupendam sejak lama, tapi memang belum sempat karena kesalib sama keinginan potongan-potongan rambut lainnya. Ribetnya, aku tuh susah banget nemuin salon yang bisa mengerti gaya rambut yang aku inginkan. Dua tahun belakangan setiap mau potong rambut aku mesti ke Bandung, nama salonnya RnR Haircutting di Jalan Sulanjana sekarang udah pindah ke RMHR (Rumah Musik Harry Roesli) . Di sana aku potong rambut dengan harga 35 ribu rupiah saja, dan mereka selalu menerima semua rekuesan gaya rambut aneh-aneh yang aku minta dengan senang hati. Beda banget sama salon di Jakarta yang kalau aku mulai eksperimen dikit langsung deh komentar kayak gini :

"Serius cyin poninya sependek itu? jadi kelihatan gendut loh"

"Mba, ini rambutnya mau ditipisin lagi? segindang udah cucok kok" 

Drama deh kalau udah pulang dari salon.

Hari itu, aku sudah tak tahan dengan poni yang sudah menusuk-nusuk mata dan bagian bawah rambut yang sudah mulai mirip potongan rambut Mayang Sari waktu jaman video klip Harus Malam Ini

Akhirnya pulang kantor, aku dan seorang teman langsung cus ke salon yang katanya sih suka motongin rambut artis-artis figuran FTV . Nama salonnya juga hits sih : SALON LOEPEDE . Yaudahlah ya aku pikir toh nanti tumbuh lagi kalau salah potong. 

Nih salonnya : 

Salonnya di daerah Pangadegan, sebelahan ama tukang soto di deket Puskesmas Keluarahan Pangadegan. 




Awalnya agak ragu sih memang. Aku mengalami deg-degan ditengah-tengah percakapan artis-artis figuran yang lagi ngobrolin jadwal shooting. 


Ada dua kabar hari itu. Kabar baik dan Kabar Buruk. 

Kabar Baik : 

Potongan rambutnya kece! Aku suka banget! Deg-degan bareng artis figuran terbayar dengan hasilnya yang memuaskan. 

Ekspektasi

Realita


Bagian belakangnya, Favorit!

Kabar Buruk : 

Waktu aku kasih foto rambut baruku ke pacar. Doi bete. Katanya aneh banget. Alhasil aku dicuekin berhari-hari. Sebenarnya sih dicuekinnya bukan serta merta karena rambut sih, karena toh selama pacaran, aku sering eksperimen sama rambut. Masalahnya kami ada acara makan- makan keluarga di mana keluarga dia akan duduk bersama, makan, dan memperhatikan rambut baruku (poin terakhir menurut doi paling menakutkan). Sepertinya doi gak siap menghadapi protes miring yang datang nantinya tentang penampilan baruku . Padahal ya, beberapa bulan lalu waktu aku ikut liburan bareng keluarganya,aku baru saja potong gaya pixie cut dan pake baju super aneh dan Bapak- Ibunya santai saja menghadapiku, senyum dan baik hati. Pacarku anaknya suka jiper sih kadang. 


Potong rambut lagi gak mungkin. Sedih juga sih, karena potong rambut setitik, batal acara makan-makan pakai belanga (Aduh, maksa peribahasanya). 

Pesan moralnya, jangan melakukan perubahan penampilan yang ekstrim sebelum acara keluarga ya, apalagi keluarga pacar.



P,s : Gaya bahasa tulisanku beda banget ya? Soalnya aku lagi belajar menulis keseharianku lewat blog. Terinspirasi dari beberapa blog yang menulis cerita pribadinya tapi ternyata informatif dan inspiratif . Berguna buat orang-orang yang gak sengaja baca




Depok, 14 Maret 2016, 2.48 AM

Kamis, 04 Februari 2016

Aku Pemabuk Baik-Baik

Tanggal sepuluh bulan lalu, aku ulang tahun. Dua puluh tujuh tahun. Aku sejujurnya terkejut menginjak usia segitu. Dua puluh tujuh tahun adalah usia yang begitu dewasa. Padahal, jauh di dalam kepribadianku, aku masih anak kecil.

Aku masih seseorang yang diam-diam cuci tangan di mesin dispenser. Seseorang yang mengupil di manapun aku berada. Seseorang yang suka bicara sendiri saat jalan kaki dari Stasiun Kalibata ke Pancoran Timur Dua. Satu hal yang berubah , aku sekarang tukang mabuk.

Minuman favoritku : Anggur Merah Cap Orang Tua! Manis.

Saat jaman kuliah, aku dan teman-teman satu angkatan hobi sekali minum anggur merah di kantin atau kosan teman. Tapi, aku tak pernah merasakan kenikmatannya. Ternyata oh ternyata mabuk itu nikmat saat kau menari. Ya, menari!

Dulu saat minum anggur merah aku akan duduk saja, mengobrol ngalor ngidul lalu ambruk, dan melamun. Saat sadar , dalam diriku menyisa kesedihan-kesedihan yang  tak kukenali. Aku punya teman-teman yang suka minum, tapi saat itu aku tak punya teman-teman yang suka pesta.

Bekerja di dunia seni membuatku sadar, aku dikelilingi para pecinta pesta , penari dan penyanyi amatir, mereka menyanyi sampai membuat telingamu berdenging tapi tak ada yang peduli. Mereka menari tak henti-henti . Naik ke atas kursi lalu meja. Tak ada yang perhatikan. Semua sama, semua menyanyi sampai telinga teman sebelahnya berdenging, semua menari tak henti-henti. Apa adanya saja ,tak ada yang ingin disangka apa. Aku dan mereka hanya ingin berpesta.

Menariknya, Aku sebenarnya menyimpan gelagat tukang pesta dari kecil. Tapi , teman-teman terdekatku tak pernah jadi rekan pesta yang handal. Tahun lalu, aku seperti menemukan rekan pesta yang membuatku ingin menari tanpa dihakimi dengan pandangan apapun. Ini bukan pesta yang isinya sekumpulan perempuan berbaju terbuka yang meniru tarian seksi ala acara-acara klub malam di televisi. Pesta ini diisi dengan orang-orang yang berajojing dengan sepatu kets, kaos oblong, dan celana pendek. Gerakannya kadang culun punya tapi kami pastikan tubuh kami anti diam saja. Sebentar-bentar kami minum anggur merah lalu memadukannya dengan bir yang sudah kami simpan dua-tiga jam di kulkas.

Minum beberapa gelas saja sembari tubuh bertandak kesana kemari, efek melayang akan segera terasa. Aku setengah sadar, setengah tidak. Biasanya aku hanya akan menyanyi lagu ABBA atau Queen dengan not yang keluar-keluar dari garis paranada. Fals.

Pengalaman telerku yang paling membuatku tertawa adalah ketika di sebuah pesta  tanpa sadar aku selalu bicara dengan Bahasa Inggris, setiap orang yang bicara denganku dengan Bahasa Indonesia aku akan menjawabnya dengan Bahasa Inggris. Aku sadar hal itu dan dengan mudah menyiapkan jawaban berbahasa Indonesia dalam otakku. Tapi, entah mengapa bibirku melontarkannya lagi-lagi dalam Bahasa Inggris. Padahal aslinya, Bahasa Inggrisku katro. Anehnya, malam itu aku punya kemampuan excellent. Alhasil esoknya, cerita itu bergaung dari satu ruangan ke ruangan lain di kantorku.

Aku pemabuk baik-baik. Pemabuk yang setia pada batasan. Mabuk dengan semangat “anak kecil”ku. Mabuk dengan kelakuan-kelakuan aneh yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Rekan-rekan pestaku menyenangkan, mereka minum untuk tertawa, tidak lebih tidak kurang.  Mereka seperti bocah-bocah yang rindu tertawa lepas setelah seharian berkutat dengan ide dan konsep berkesenian yang makin absurd.


Aku sempat berpikir, apakah aku sudah jadi anak nakal? Ah, tidak juga.