"Kalau kau percaya, kejar dan berdoalah," begitu kata Bapakku
suatu hari di meja makan.
Aku ingat kata-katanya malam ini saat sadar bahwa aku tak
lagi percaya apa yang aku percaya.
Berdoa adalah kata yang paling susah masuk akalku detik ini.
Sungguh aku bukan atheis. Tapi sejak berkali-kali purnama yang lalu . Aku
memercayai satu hal ; aku bisa mencintaimu dengan cara apa saja. Apakah kau
akan menjadikan aku anak tiri yang kau pilih-pilih kasihnya karena aku tidak
mengambil jalur pribadi ketika menghubungimu?
Aku memilih mencintaimu dengan jalan yang lain. Menaruh
panjang waktu dan lebar senyumku pada orang-orang di luar sana. Menghimpun pundi-pundi uang dari si kaya dan
memberikannya pada yang papa, berdamai pada segala macam bentuk perbedaan, dan
meyakini kesulitan sebagai penanda bahwa kemudahan itu juga niscaya – Inna ma'al 'usri yusra. Bukan begitu?
Depok, 23 Agustus 2017
3.47 AM . Ditemani secangkir Susu Milo dari Malaysia dan rokok rasa menthol