Tadi malam aku
memutuskan bertemu sahabat lama, kami menghabiskan waktu bercakap-cakap di
sebuah cafe retro di dalam hotel di bilangan Gondangdia. Ia meminum mocktail bernuansa hawaii dan aku menyeruput
segelas tinggi green tea latte.
Namun, yang penting bukan itu, melainkan obrolan kami berjam-jam tentang “Sekarang kita sudah jadi apa?”
Ia adalah
sahabatku ketika berumur 13 tahun, di umur 15 tahun kami pernah melakukan
sebuah percakapan tentang,
“Di umur 25
tahun kita bakalan kayak gimana ya?”
Semua rencana
dan impian meluncur dari kepala kami,
“Gw bakalan
jadi wanita karir, punya apartemen sendiri, mandiri”
“Kira-kira kita
bakal ML sebelum menikah gak ya? Kayaknya
gw iya deh,”
“ Gw bakalan
nikah di umur 27 tahun atau gak 30 tahun. “
Di umur semuda
itu kami sudah menjadi cikal bakal perempuan bebas dan ambisius.
Setelah
bertahun-tahun kami lalu bertemu. Ia dengan rok mini dan gaya perempuan chic jaman ini, ia masih sama, laki-laki
masih selalu melihatnya dari kepala sampai kaki, kali ini lelaki bule yang kami temui melempar senyum
padanya “Gw mau punya suami bule,” ujarnya ketika baru saja duduk di sebuah sofa panjang. Aku
masih dengan kaos, celana jins, tumpukan kalung dari nias dan kalimantan dan
sepatu boot. Kami tidak pernah berubah.
“Kita pasti
tidak seakrab dulu”
“Kenapa sih lo
pesimis banget, kalo gak dipaksain hari ini bertemu kapan lagi?”
“Hari Selasa gw
umroh”
“Lo anaknya
solat banget dong ya sekarang?”
“Gak juga, tapi
gw mau mencari jalan kehidupan gw”
“ So,usia kita
tahun ini 25, apa yang sudah terjadi dalam hidup lo?”
Ia mulai
bercerita, bahwa di usianya ke 25 ia belum tahu kemana arah hidupnya, bahkan ia
butuh pergi ke Mekkah, Madinah, dan mencoba beribadah di Israel ditemani
pemandangan puluhan tentara bersenapan laras panjang di sekitarnya.
“Nyokap nyuruh
gw ngerasain gimana rasanya toleransi dan tertekan di Israel dan negara-negara
konflik di sekitarnya, jadi setelah umroh gw akan ke Israel, Syiria, dan
Lebanon, sendirian.”
Dalam pikiran
gw, perempuan secantik ia dan dulunya sangat mandiri itu tidak mungkin
kebingungan di usia 25 tahunnya ini, nyatanya ia tidak tahu arah. Ia bekerja
tiga bulan di sebuah perusahaan asing
dengan gaji diatas rata-rata, Ia lulusan teknik kimia Universitas Negeri, Ia
cantik dan fashionable, tapi ia tetap
tak tahu ingin jadi apa. Ia resign
dan sedang galau.
“Mimpi itu ada expired date nya, gw apply pekerjaan ke banyak negara tapi gak
satu pun nerima gw, gw hopeless”
Aku patut
berbangga hati kali ini, di usiaku ke 25 tahun setidaknya aku sudah tahu ingin
jadi apa dan sudah kujejakkan kakiku di jalan yang tepat. Aku mulai bercerita tentang
keberhasilanku bertahan pada mimpiku tentang karir padanya.
“Setelah
membuat skripsi tentang seni rupa gw punya mimpi berkarir di bidang ini, hampir
lima bulan gw kelaperan karena sengaja menolak pekerjaan yang bukan seni rupa,
banyak orang bilang gw gila”
Sekitarku mulai
menggoncangkan tubuhku dengan kata-kata “lo gak realistis bi”. Entah kenapa
perasaan yakin ini terlalu kuat untuk dipindahkan. Saat itu rasanya, mimpiku
sedang berjalan ke arahku dan aku hanya perlu menunggunya datang, tak lama,
tapi sayang tak ada yang percaya. Banyak sudah yang kukorbankan, keluarga,
hubungan cinta, kesehatan, demi mimpi yang dinilai absurd dan hampir membuatku menyerah. Tawaran pekerjaan terus saja
datang tapi tanganku tetap melambai.
Aku kehilangan
semuanya saat itu, semua.
Aku menyerah,
aku kirimkan sebuah surat lamaran ke majalah musik. Setelah menonton Almost Famous, jenis pekerjaan jurnalistik
yang ingin aku kerjakan hanya sebagai jurnalis musik lebih dari itu tak ada
lagi yang menarik. Aku dipanggil, beberapa wawancara aku lewati. Bodohnya, aku
memilih tidak tidur sebelum wawancara dan saat sampai ke kantor untuk wawancara
terakhir dengan pimpinan redaksinya yang penggemar berat Metallica itu, aku
masih kena efek “basian” sisa semalam.
“Kamu suka
nonton film?”
“Tidak pak,
saya tidak suka bioskop, gelap dan sempit”
“Kamu suka
musik?”
“ Tidak....”
(ini jawaban super tolol untuk seseorang yang sedang melamar di majalah musik!)
Hidupku tak
cepat sial ternyata, ia izinkan aku menulis beberapa artikel di majalah itu,
tapi aku memilih untuk sadar bahwa ini bukan mimpiku.
Aku kembali kelaparan..
“Lo mau jadi
apa sih?” ujar seorang teman
“ kurator seni
rupa muda kenamaan..”
“Ada pameran
fotografi di Erasmus, kuratornya kayaknya namanya sering lo sebut-sebut, lo mau
bantuin?”
“MAU!”
Dan semesta
terus menantang kesabaranku untuk bertahan. Aku tukar pekerjaanku seharga
sejuta semalam demi menemui kurator itu di Kuningan, sekedar kenalan pikirku.
Tapi sampai malam ia tak kunjung datang. Rasanya mulai sia-sia.
Esoknya aku
datang lagi, menuggu sampai malam, batang hidung kurator senior itu tak
kelihatan. Harapanku mulai berangsur pupus. Kami sudah mulai berbenah dan ia
muncul. Aku dikenalkan sebagai lulusan filsafat dengan skripsi tentang kritikku
pada pasar seni rupa, senyumku sudah mengembang, hidungku juga.
Tapi, matanya
tak sama sekali melihatku, terdengar satu kata saja
“ooh..”
Lalu ia pergi
dan mulai mengatur tata letak pameran. Aku bagai sebuah bongkahan es batu, yang
diketok palu dan hancur berkeping-keping. Sial.
Esoknya,
pembukaan pameran akan dimulai. Aku hanya melihat ia datang dan tak sedikit aku
mengangkat wajahku untuk menatapnya. Ia tergopoh-gopoh karena belum membuat
presentasi untuk pameran. Ia hanya bisa menatap sebuah layar laptop berformat windows. Beberapa menit lagi ia harus bicara
di depan puluhan orang. Aku menghampirinya.
“ Ada yang bisa
saya bantu pak?”
“ Saya harus
buat presentasi, tapi saya gak bisa pake windows,
bisa bantu saya?”
Aku di depan
layar laptop, 30 menit kami lalui dengan saling melontarkan kata untuk merumuskan
ide dan deskripsi di tiap halaman presentasi. Dan selesai. Aku sudah mengirim
datanya ke flashdiskku dan berlari ke operator untuk memutarnya seraya sang
kurator menjelaskan isinya di depan para penggemar foto dan sejarah itu.
“ Siapa nama
kamu?”
“Erby, pak”
“Kamu boleh
kirim cv kamu ke email saya, tapi belum tentu saya terima ya”
“Gak apa-apa
pak, yang penting saya bisa kirim email ke bapak.”
Hatiku mau
meledak, senyumku melebar, sepertinya sampai mengitari kepalaku sendiri.
Teman-temanku
terkejut, mereka bahkan hampir tidak percaya bahwa mimpiku yang gila itu sudah
ada di depan mata, bahwa pengorbananku berbuah manis. Bahwa apa yang
kupertahankan tanpa alasan itu memang eksis, memang ada, dan aku tidak sedang
berandai-andai bukan?
Tapi
kebahagiaan ku tak berlangsung lama, setelah mengirim email, tak ada panggilan
satu pun. Berminggu-minggu dan sudah satu bulan aku tanpa kepastian dan tanpa
uang. Tawaran kerja di Ubud membuatku rasanya ingin sekali pergi menjauh, mungkin
aku akan belajar seni rupa di Ubud. Rasanya tak ada lagi yang kutuju dan ingin
kulakukan , Tuhan pasti akan membawa tubuhku pada tujuanNya yang lebih baik dan
aku tak tahu apa-apa. Oke, aku ikuti permainanmu.
Sebelum bilang “Ya”
pada Kota Ubud, kupasrahkan nasibku sekali lagi pada Tuhan. Aku kirimkan dua
email, satu ke Ubud dan satu lagi pada kurator itu. Dalam hatiku, aku berucap,
siapa yang pertama membalas email ini, padanya aku akan menuju.
Tiga menit
kemudian sebuah balasan email masuk,
Saat itu aku
membacanya di bawah hujan deras tanpa payung, bajuku sudah basah kuyup. Tanganku
sudah mau beku saat membuka inbox email
di handphoneku,
“Saya sudah
terima emailmu sampai dua kali, saya
sedang menyusun sistem kerja kita, kamu bisa datang ke kantor minggu depan
bicara tentang jobdesk dan gaji?”
Aku sama sekali
tak peduli air hujan sudah membasahi rambut dan wajahku. Malam itu aku merasa
Tuhan selalu membukakan jalannya saat kita tahu jalan mana yang mau kita tuju,
dan seberapa besar kita menginginkan jalan itu.
“Gw kerja jadi
Kordinator Art Project gtu, gw kerja dikelilingi ribuan lukisan dari realis
sampe kontemporer, kemaren gw dikasih kesempatan kurasi satu pameran tunggal
seorang seniman di Kemang, lo mau dateng ?” Ujarku saat sabahat lama ku itu
bertanya,
“Sudah dua
puluh lima tahun, lo sudah jadi apa?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar