Senin, 07 April 2014

JATUH CINTA PADA JARI-JARI TAK DIKENAL

Percaya jatuh cinta pada  pandangan pertama?
Aku percaya.

Aku pernah jatuh cinta pada sebuah nama sansekerta di sebuah kertas berisi rentetan nama mahasiswa baru. Saat seorang senior memanggil namanya, leherku hampir patah karena dengan cepat menengok. Beberapa waktu kemudian aku memacarinya.

Aku pernah jatuh cinta pada sesosok lelaki di sebuah majalah.  Memandanginya dari malam ke malam. Dalam hati aku tahu suatu hari kami akan punya hari-hari bersama. Kurang lebih satu tahun kemudian, kami pacaran bertahun-tahun.

Aku pernah jatuh cinta dengan seseorang di pinggir danau yang duduk membakar ganja pagi-pagi buta, hanya karena dia memakai jaket hijau tua dan sepatu dengan mode yang kusuka. Aku mengajaknya berbicara dan kami suka menghabiskan tawa bersama.

Kali ini aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan jari-jari yang tak dikenal di dalam kopaja.


Aku sedang tak peduli sekitar, hatiku sedang kacau balau.
Tapi aku berdiri mematung, terkesiap dengan hati  bergetar hebat. Tubuhku lemas seketika. Jari-jari itu mendarat tepat di sebelah jari-jariku yang memegang pegangan kursi yang hampir semua karat.

Aku hanya memandangi jari-jari itu, jari-jari yang membuatku nostalgia. Cara dia memegang kursi, cara dia mengetuk langit-langit bis kopaja mengingatkanku pada seseorang. Aku tak berani melihat wajahnya. Aku perlahan memandangi kemeja yang ia pakai, seingatku warnanya biru. Rahangnya tegas dan khas, matanya sipit padahal bukan orang cina, matanya tajam dan dalam. Ia serius dan misterius. Sebuah kesan yang membuat pikiranku langsung baur.

Ia turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Aku rasanya ingin turun dan menanyakan namanya. Tapi aku takut disangka gila. Ia turun dan aku seperti melambaikan tangan pada harapan yang absurd.

Esoknya aku sengaja naik bis di jam yang sama biarpun aku telat dua jam dari waktu masuk kerja. Tapi sosoknya tak kuutemui lagi. Kerja apa dia jam 11 baru sampai kantor? Aku yakin suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi. Wajahnya membuyarkan apa yang mau aku kerjakan setiap hari. Dua bulan berlalu aku tak lagi bertemu pandang dengannya.

Suatu hari aku telat lagi masuk kerja, masuk ke dalam bis dan memandangi jalanan dari balik kaca-kaca retak. Lagu-lagu Pink Floyd berkumandang di headset yang kusumpal di dalam telinga. Sosok yang kukenal melewatiku dan turun tepat di pom bensin Kemang Selatan. Ia muncul tanpa firasat. Aku terkejut dan kesempatan seketika terlewat. Mobil –mobil yang berdesakan padat, hanya mempersilakan mataku melihat kemana ia berjalan setelah turun di pertigaan jalan. Aku tak tahu apakah kami akan bertemu lagi. Hatiku masih bergetar hebat dan tanganku mulai dingin.

Sehari setelahnya aku tak sempat berdandan. Rambutku masih basah, bajuku masih baju kemarin, Aku masuk bis dengan muka masih ingin tidur. Ia ada di kursi paling belakang dengan kemeja coklat dan tatapan mata yang lekat. Aku berbalik badan, melihatnya lama-lama aku tak kuat. Dia hanya akan melihat punggungku dan diam-diam aku tersenyum kaku. Sudah tiga kali kami bertemu, rasanya ini bukan saja perihal kebetulan.


Senin dan Rasa Penasaran Yang Mau Meledak Dari Kemarin.

Orang akan bilang aku gila kalau aku bilang bahwa aku jatuh cinta pada sosok yang tak kukenal. Yang hanya akan kutemui kalau aku terlambat pergi bekerja. Aku merasa ada yang berbeda, semesta tak akan membuatku penuh rasa penasaran sepert ini kalau aku dan dia tidak punya korelasi. Hari ini atau nanti.

Sehari sebelum hari Senin aku naik vespa dibonceng teman. Aku masuk belokan Kemang Selatan menelusuri satu persatu rumah yang tak ada tanda-tanda sebuah kantor terletak disana. Aku bertanya  dari satu orang ke orang lain di pinggir jalan. Apakah ada sebuah kantor yang bisa menjadi penunjuk jalan aku mengetahui namanya. Hasilnya nihil.

Senin, aku naik vespa dibonceng teman. Melihat satu persatu orang turun dari dalam kopaja di depan pom bensin Kemang Selatan. Tak kutemui sosoknya di jalanan. Sudah pukul 11, harusnya ia sudah hadir di depan mataku dan menyusup masuk ke otakku. Mungkin aku terlambat.

Pukul setengah 12 dan langkahku sudah gontai. Aku langkahkan kakiku masuk ke sebuah convenience store membeli sebotol yoghurt rasa anggur merah. Dalam bayanganku aku menenggak juga anggur merah, mabuk dan lupa dengan sosok tak kukenal itu. Tepat ketika aku keluar, seseorang masuk ke dalam tempat yang sama . Seseorang dengan rahang yang tegas dan khas, mata yang sipit tapi bukan orang cina. Seseorang dengan jam di tangan kanan dan mata yang yang tak bisa aku deskrpsikan ketajamannya. Ia masuk tanpa memerhatikan sekitarnya . Aku terpaku, kakiku terkait pada aspal jalan. 

Jantungku berdetak cepat ,memilih pergi ke kamar mandi dan hap! dia hilang ditelan bumi.

Aku sepetinya mulai gila, ujar sahabatku yang sudah kepanasan menungguku mengejar sosok absurd di dalam kopaja, Katanya mungkin aku hanya berhalusinasi atau mungkin aku terlalu banyak menonton film prancis yang suka sekali mengangkat tema dengan cerita-cerita seperti yang aku lakukan ini.

Sepertinya memang iya, jatuh cinta memang kadang membuatmu gila. Cinta bisa membuat Romeo dan Juliet dengan bodohnya minum racun seakan-akan mereka akan ada di surga yang sama nantinya. 

Jatuh cinta bisa membuat hatimu bertekuk lutut bahkan pada jari-jari yang tak dikenal.

TB. Simatupang, 8 April 2-14
2.49 AM





Tidak ada komentar:

Posting Komentar