Asap rokok melayang-layang di antara kami. Sebentar-sebentar dia menyeruput segelas kecil kopi hitam yang dicampur susu kental manis. Aku melipat tangan di depan dada, satu tanganku terus menerus menyalakan rokok. Matanya, mata itu tajam dan menusuk seperti pedang tepat ke mataku. Dia bicara tiga jam tanpa henti. Aku mendengar ceritanya tanpa sekalipun melempar pandanganku dari matanya.

Baru hari itu kami bertatap muka setelah semalaman kami berbincang. Aplikasi biro jodoh yang aku unduh di telepon genggamku mempertemukan kami hari ini. Aku tak pernah percaya bahwa banyak manusia aneh yang mempromosikan dirinya seperti barang dagangan di sebuah aplikasi perangkat lunak. Gambar-gambar wajah yang bisa kau pilih sesuka hati, kalau tak suka tinggal kau buang tanpa pikir panjang. Temanku yang sudah hampir lima tahun tak punya pasangan semalaman mengacuhkanku karena aplikasi ini, aku mati-matian menolak ikut serta. "Okey, gw coba, kayaknya enak sok punya otoritas, jadi berasa cantik ya. Lihat lalu pilih, gak suka ya tinggal buang," ujarku di sebuah malam pada temanku itu.
"Halo salam kenal, sepertinya kita satu kampus?"
"Salam kenal juga, sepertinya iya. Muka lo terlihat familiar"
"Gw lihat lo beberapa hari yang lalu di apartemen tempat gw tinggal, lo tinggal di apartemen yang sama dengan gw ya?"
"Oh gak kok, gw cuma sering kesana saja, ke tempat teman"
"Lo itu kayaknya satu angkatan sama cewek gw deh"
"Oh ya? wah dunia kecil ya"
Ingin bertemu orang tak dikenal malahan berbincang dengan anak satu kampus juga. Aku sering lihat mukanya dulu di kampus saat masih kuliah. Sambil lalu saja, tak ingat juga. Obrolan mengalir ringan saja sampai jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Kalau gak ganggu, boleh gw minta nomor telepon?"
"Hmm, boleh sih"
"Kalau gw telepon sekarang boleh? Gw belom pernah merasa nyaman ngobrol sama seseorang yang baru gw kenal"
"Gw gak terbiasa telepon-teleponan dengan orang yang bahkan gak pernah bertemu, lagipula gw sedang latihan Yoga"
"Okey, gak apa. Kalau bertemu bagaimana? besok bisa. Ada yang ingin sekali gw bicarakan"
"Nanti gw kabari ya.."
Aku akhirnya percaya bahwa banyak manusia aneh di dunia maya. Hanya dalam waktu beberapa jam saja berbincang tanpa temu muka, ada orang yang tiba-tiba bisa merasa nyaman, tiba-tiba ingin sekali bertemu bahkan dalam waktu cepat. Freak! kalau dia bukan anak satu kampusku dan pacar teman satu angkatanku, rasanya malas balas pesannya lagi. Esoknya, lelaki itu menghubungi hampir dua jam sekali, menanyakan dimana dan sedang apa. Rencana esok akan apa dan kapan kami bisa bertemu. Seperti teror rasanya. Untuk menghentikan perasaan tak nyaman ini, aku sepertinya harus bicara empat mata dengannya.
Kopi hitam bercampur susu kental manis itu tinggal seperempat gelas. Asap rokok yang bersileweran sudah mulai tipis. Aku mulai menyeruput segelas es jeruk. Kata yang terus keluar dari mulutnya selama berjam-jam ini adalah "bahagia" .
Dia merasa tidak bahagia bertahun-tahun dan menuduhku adalah manusia yang sangat bahagia. Aku ternyata datang untuk mendengarkannya bercerita dan berkeluh kesah tentang kehidupannya dan ketakutan-ketakutan yang menghampirinya. Aku mengganggap permasalahan yang dia lontarkan sederhana saja. Dia bukannya tak bahagia tapi dia tak mau cari jalan untuk bahagia atau mungkin tak tahu di mana jalan menuju bahagia itu berada. Intinya dia tak mau mencari. Sambil melepas kacamatanya, dia bicara tentang hubungan asmaranya selama 6 tahun dengan seorang yang berbeda agama. Keluarganya Muslim taat, keluarga si pacar Advent taat. Tak ada yang mau mengalah, tak mengalah pun mereka masih bisa ke KUA sebenarnya. Pilihan itu tidak dipilih, takut durhaka katanya. Putus? lelah ujarnya berkenalan lagi dengan perempuan baru.
Dia tidak punya pekerjaan tetap dan tidak tahu mau kerja apa dan jadi apa ke depannya. Setiap dia merasa akan mendapatkan kerja yang tepat ke Bali bahkan Sudan, keluarganya selalu bilang jangan. "Takut durhaka.." sudah dua kali dia bilang begitu. Sejak kecil sampai kuliah, dia tak punya sahabat, tak pernah merasa nyaman bicara dengan siapapun bahkan dengan pacarnya sendiri. Aku, katanya, satu-satunya orang yang terasa seperti wadah dimana dia menumpahkan segala apa yang ada di hati dan otaknya. Dari apa yang dia ceritakan, satu hal yang pasti kutahu biarpun aku tak banyak bicara saat itu. Dia sedang minta tolong. Ya, kepadaku.
"Gw gak pernah ngobrol sama orang yang gak berhenti menatap mata gw selama berjam-jam"
"Setiap bicara sama orang gw selalu melakukan itu kok, karena mengobrol itu butuh konsentrasi. Kalau gak kita akan lupa kita bicara apa hari ini. Dan, kalau seperti itu, lalu untuk apa meluangkan waktu untuk bertemu?"
"Gw lihat seluruh hal tentang lo di social media, lo dikelilingi teman-teman yang banyak, lo tersenyum di setiap foto, lo sepertinya gak pernah sedih, lo seperti mudah memutuskan sesuatu di hadapan lo tanpa banyak merenung. Kenapa lo begitu bahagia?"
Nada suaranya mulai naik, daritadi aku menangkap intonasi yang sangat fluktuatif. Terdengar pelan dan lembut lalu naik bersama amarah yang tertahan, lalu seketika dia kembali bernada manis. Setiap dia bilang aku bahagia, jarinya menunjuk-nunjuk mukaku lagi . Aku lekat menatap matanya saat itu. Tubuhku mulai bergetar, mentalku mulai terpedaya. Salah satu tanganku sudah perlahan terkepal.
"Lo belom sama sekali kenal gw, hidup gw gak selalu bahagia tapi gw tahu bagaimana cara membuat setiap detik dalam hidup gw bahagia biarpun kenyataannya gak. Gw gak suka bicara hal yang sangat pribadi sama orang yang baru kenal. Tapi, lo sudah terlalu lancang menuduh gw sebagai orang paling bahagia di dunia dan menempatkan diri lo seolah-olah manusia yang paling menderita."
Aku berkata dengan nada yang tegas, perlahan, namun sangat tendensius.
"Gw gak punya bapak dan ibu, gak punya rumah, Gw kuliah dengan uang yang gw hasilkan sendiri, dari bekerja sebagai reporter dan mengikuti lomba menulis. Gw kelaparan mengejar cita-cita sebagai kurator seni rupa. Lo jauh lebih beruntung daripada gw, punya bapak dan Ibu, tidak harus banting tulang untuk terus kuliah. Biarpun hidup gw menyedihkan, gw tahu bagaimana jadi bahagia, gw tahu apa mimpi gw dan konsisten mengejarnya biarpun gak semua orang bisa percaya, Gw mau berteman dengan banyak orang dan menganggap mereka seperti keluarga gw sendiri. Itu yang gak lo punya, yang gak pernah lo sadar"
Dia diam seribu bahasa, dia tidak pernah menyangka bahwa hidup yang dikeluhkannya itu tak sebanding dengan apa yang aku jalani.
"Gw menghargai setiap orang yang datang ke hidup gw, agar mereka juga menghargai kedatangan gw. Itu yang gw lakukan kepada lo hari ini. Menurut lo ada yang mau ketemu orang yang tiba-tiba minta ketemu padahal baru semalaman berinteraksi, lewat dunia maya pula? Gak ada! harusnya gw bawa botol air merica di tas gw sekarang buat nyemprot lo. Tapi gak, gw gak bawa apapun. Gw percaya sama lo. Lo menyangkal semua hal yang datang ke diri lo termasuk hal yang baik. Lo lupa bersyukur..."
"Maaf, gw gak tau lo.." katanya dengan air muka yang berubah lesu
"Gw tahu lo sedang minta tolong, gw akan bantu lo kok. Gw tertarik menjadi pendengar cerita-cerita lo. Kalau lo mau bahagia seperti apa yang lo tuduhkan ke gw. Ikuti cara gw melihat hidup ini, kalau lo tetap menyangkal, lo boleh cari orang lain," kataku sambil mematikan rokok dan menandaskan es jeruk yang sudah tak dingin lagi di atas meja.
"Gw akan ikuti lo.."
Tahun ini aku sudah bertemu banyak sekali orang baik. Sepertinya dia didatangkan sebagai kejutan akhir tahun. Sebagai misi "Pay it Forward" yang aku jalani setelah perjalanan panjangku bulan Oktober lalu. Aku ulurkan tanganku untuk lelaki yang terperangkap dalam sumur keluhan itu. Di matanya hanya ada dinding pembatas yang mengitarinya. Untuk orang yang selalu mengeluh, menariknya ke atas daratan untuk melihat dunia pasti hal yang akan membuat migrain ku kambuh sampai akhir tahun.
"Besok kita rombak CV lo kalau lo punya pekerjaan semua orang akan percaya sama lo. Pacar lo, keluarga lo dan bahkan diri lo sendiri. Oh, iya lo perlu memproduksi endorphin di dalam tubuh lo biar bisa lebih bahagia. Minggu ini kita jogging. Kalau lo gak nurut, lo boleh cari orang lain.." ucapku sambil melempar pandangan pada hujan yang sudah mulai turun di luar jendela. Tanganku tak lagi mengepal. Satu batang rokok dengan asap yang melayang-layang di antara kami menutup sore itu.
Rumah, Depok, 17 November 2014
2.59 AM