Selasa, 22 Agustus 2017

Aku Memilih MencintaiMu Dengan Jalan Yang Lain, Percayalah.

"Kalau kau percaya, kejar dan berdoalah," begitu kata Bapakku suatu hari di meja makan.

Aku ingat kata-katanya malam ini saat sadar bahwa aku tak lagi percaya apa yang aku percaya.
Berdoa adalah kata yang paling susah masuk akalku detik ini. Sungguh aku bukan atheis. Tapi sejak berkali-kali purnama yang lalu . Aku memercayai satu hal ; aku bisa mencintaimu dengan cara apa saja. Apakah kau akan menjadikan aku anak tiri yang kau pilih-pilih kasihnya karena aku tidak mengambil jalur pribadi ketika menghubungimu?

Aku memilih mencintaimu dengan jalan yang lain. Menaruh panjang waktu dan lebar senyumku pada orang-orang di luar sana.  Menghimpun pundi-pundi uang dari si kaya dan memberikannya pada yang papa, berdamai pada segala macam bentuk perbedaan, dan meyakini kesulitan sebagai penanda bahwa kemudahan itu juga niscaya –  Inna ma'al 'usri yusra. Bukan begitu?

Aku akan kembali berdoa, tapi nanti. Percayalah. 



Depok, 23 Agustus 2017
3.47 AM . Ditemani secangkir Susu Milo dari Malaysia dan rokok rasa menthol

Kamis, 08 Juni 2017

Selamat Bertemu Jari-Jari Tak Dikenal

Aku pernah menulis  asal usul dari tulisan ini. Sekitar tahun 2014.  Di sini : Jatuh Cinta Pada Jari-Jari Tak Dikenal  . Jadi ada baiknya, kamu baca tulisanku yang itu dulu dan baru menikmati tulisanku yang ini. 


Aku masih ingat jari-jari itu,
Jari-jari tak dikenal di kursi Kopaja Pasar Minggu – Blok M, tiga tahun lalu.
Tapi aku mengenalinya tanpa ragu, saat jari-jari itu berada begitu dekat dengan jari-jariku di sebuah pernikahan sejawat kami. Sebulan yang lalu.


Susah memang kalau kita menyukai tipe wajah yang itu-itu saja, tipe potongan rambut yang itu-itu saja, bentuk badanya yang begitu melulu, dan cara menulis yang seperti itu lagi, seperti itu lagi. Waktu itu sore, di belakangku, sejawatku sedang ijab kabul. Aku membelakangi mereka karena tahu prosesi ijab kabul pasti begitu-begitu saja. Ada yang melintas dengan muka tak bersahabat. Bibirnya katup, matanya tajam dan sipit tapi tidak seperti orang cina. Aku menyukainya detik itu juga. Mataku mengikuti gerak  tubuhnya . Hiruk pikuk  pernikahan sama sekali tenggelam dalam sore itu. Seakan-akan tempat  itu kosong, sepi, hanya ada aku dan dia dengan wajahnya  yang tak bersahabat itu.

Aku berdiri di samping sebuah meja , dari tempat itu aku akan lihat dia dengan jarak lebih dekat. Tak ada senyum di bibir itu biarpun aku menyapanya lewat mataku yang sengaja kuarahkan ke matanya. Dingin sekali. Ia menulis  sebuah pesan untuk kedua mempelai. Aku memerhatikan jari itu, lekat-lekat. Saat menulis, dia memasukkan jempolnya ke belakang telunjuk, termasuk cara yang tak lazim. Lalu, aku tertawa terbahak-bahak, besar-besar, tidak henti-henti, tidak di depannya tapi di dalam hatiku.

“Hai kamu! jari-jari yang pernah membuatku disangka pengidap halusinasi! Bersama kenangan akan jarimu-jarimu aku melewati perasaan yakin, tak yakin, yakin, lalu mulai menyangka bahwa aku memang berhalusinasi! Dasar kamu! Aku tak menyangka setelah lebih dari seribu hari berlalu, kita akan bertemu lagi. Teman kita sama ternyata. Aku tak pernah lupa wajahmu. Pantas saja aku merasa suka sejak melihatmu dari detik pertama. Persis sama dengan perasaanku saat kita berdiri bersebelahan di dalam kopaja saat  pergi ke kantor dulu. Hidup bekerja  terlalu absurd, atau malahan tak pernah sama sekali berantakan? Tapi malahan polanya sangat teratur. Mempertemukan apa yang pernah terpisah jauh. Memercayai kalau apa yang terjadi di suatu hari akan punya alasan di hari yang lain, 

Jarimu itu agak berbeda sekarang, ada cincin di jari manis tangan kananmu. Itu tandanya, hidup tak bergerak sejajar dan tepat waktu untuk kita. Kamu sudah berjalan jauh melampauiku. Aku tidak pernah menyesal sebegitunya, aku hanya  geli saja karena tak pernah terlintas bahwa kita sekarang akan berjarak sejengkal dua jengkal seperti dahulu. Aku hanya ingin memandangimu saja semalaman ini, lebih lama daripada yang pernah aku lalukan saat bertemu kamu dulu.

Aku hanya ingin memandangimu dan tahu namamu.

Aku akhirnya  tahu...

namamu,

Aku lihat saat kamu menulis pesan untuk teman sejawat kita. Namamu Koko. Kependekan dari Handoko.
Apakah aku boleh tertawa terbahak-bahak? besar-besar dan tidak henti-henti, sekali lagi? Kali ini tak kutujukan padamu. Tapi pada hidup yang sedang menunjukkan selera humornya padaku hari itu". 




Rumah, 09 Juni 2017, 1.03 PM


Sabtu, 29 April 2017

Matamu dan Tanganmu

Aku tergila-gila dengan sepasang mata dan urat-urat tebal di sepasang tangan.

Matamu

Tanganmu

Apakah kau masih mengingatku? Perempuan yang tepat di depanmu ketika kau bilang “Aku anti hal-hal spiritualis macam ini...” . Padahal waktu itu kau sedang memimpin doa. Kau terpaksa berdoa, doa itu kau tujukan untuk pejuang Kendeng yang hari itu berduka karena salah satu kawannya mati dipasung situasi.

Lalu, kau duduk di sebelahku. Setiap kau bicara lantang, aku melihatmu dengan tenang. Aku berusaha keras tak ingin berkedip barang sedetikpun. Aku takut.

Aku takut kehilangan waktu melihat matamu. Mata yang membuatku hatiku jatuh.

Sejak hari itu dan sampai hari ini. Aku tak pernah lupa,

Matamu

Tanganmu

Sepasang tangan dengan urat-urat tebal dan sepasang mata yang aku gila-gilai




Depok, 30 April 2017
2.51 PM
Rumah dan mengingatmu