Tepat seminggu lalu Ayahku ulang tahun. Biasanya jam 12 aku akan membangunkannya, mengatakan ucapan selamat ulang tahun, mencium tangannya, memeluknya dan membiarkan ia mencium kedua pipiku dengan iler yang masih menempel di pipinya. Aku akan agak menghindar dan ayahku ya tertawa saja.
Sejak ayah sakit tiga tahunan yang lalu kami jarang beli kue ulang tahun. Kue mengandung banyak kolesterol dan lemak jahat , ia juga tak doyan-doyan amat kue. Jadi, dari jauh hari ayah akan bilang untuk menghadiahi dia pulsa saja. Kadang kami kesal, "Kok pulsa sih yah?" Begitu ujarku. Ternyata di rumah membosankan. Hanya ada tv, anak-anaknya sibuk semua, pulang selalu larut malam . Ia hanya menghibur dirinya dengan ibadah, nonton tv, mendengar radio, kadang sore melihat anak-anak kecil main di depan rumah, dan menelpon teman-temannya kadang sampai pulsanya habis. Menelpon kami juga di waktu-waktu yang tidak tepat. " Apa sih ayah, ntar ah telponnya," kataku kalau terima telponnya dia saat sedang sibuk melihat lukisan-lukisan di kantor.
Sudah seminggu aku melankolia sekali, rindu benar padanya. Jam 2 saat masih menonton tv aku rindu ayah keluar dari kamar sambil dadah-dadah gak jelas ke arahku. Ia ke kamar mandi ambil wudhu untuk solat tahajud. Paling romantis kalau ingat aku harus pulang naik ojek ke rumah tapi gak bawa uang, karena ayah mengantuk dan enggan bangun hanya karena aku pulang maka ia menaruh boneka beruang pink raksasa seukuran 3/4 tubuhku di depan pintu rumah dan menaruh uang 5 ribu di atas kepala beruang. Uang itu aku pakai bayar ojek, kalau yang ini aku sampai senyum-senyum sendiri.
Ayahku waktu muda sampai sebelum sakit adalah laki-laki tinggi besar yang gagah yang selalu menonjol dimanapun dia berada. Keberaniannya dalam berinovasi apapun selalu memukau orang-orang di sekitarnya. Ia dihormati banyak orang. Saat sakit, ia kehilangan semuanya, begitu rapuh. Tapi, kalau dini hari tiba2 mati lampu aku tetap meneriakkan namanya untuk berlindung. Tidak seperti disaat kecil, ayah akan menghampiriku dan memelukku. Ayah cuma diam saja karena kakinya lumpuh sebelah karena stroke, ia hanya berkata " Kakak , kakak , sini ke kamar ayah aja!" Lalu aku loncat dan tidur dibalik punggung ayahku. Ayah akan memeluku seperti waktu kecil.
Aku kelelahan baca doa seminggu ini saking sering rindunya sama ayah. Setiap rindu katanya aku harus kirim doa.
Suatu hari, saat aku sedang patah hati aku duduk di meja makan berdua dengannya lalu tiba-tiba aku menangis. Ayah sambil minum teh cuma bilang " Kamu tuh baru kehilangan orang yang mungkin besok masih bisa dihubungi, coba ayah kehilangan bunda yang udah gak bisa diajak ngobrol lagi , gak keliatan lagi fisiknya, kamu masih beruntung nak.." Sumpah, aku terdiam saat itu bisa-bisanya menangis padahal ayah jauh lebih sedih ditinggal bunda yang sudah 23 tahun bersama, yang hanya bersama bunda ia bisa berdiskusi apapun. Ia tak lagi punya teman ngobrol satu frekuensi tapi ia tak merengek sepertiku.
Aku rindu sekali padanya, pada dadah-dadah gak jelasnya, cengir kudanya, sms dan telponnya di waktu-waktu gak tepat, nasihatnya. Dengan romantisme ayah-anak yang dicampur dengan rasa humor yang manis.
* I love you Sarayah! More and more! Kalau ayah gak tau artinya ayah bisa tanya bunda di atas sana..
Rumah, 25 November 2014
4.30 am
Wah tulisan ini benar-benar menularkan melankolia di dada, sampai menitikkan air mata juga
BalasHapus