Aku baru saja ingat, ini tepat tanggal sebelas Juli. Bukan tanggal sebelas biasanya.
Hari ini pernah jadi hari yang kita tunggu- tunggu. Harapan selalu tumpah ruah ketika jarum jam sudah berdentang 12 kali. Kita rebutan mengucap selamat. Selamat tanggal sebelas.
Kita selalu merayakannya dengan pewangi ruangan, obat nyamuk elektrik, satu pak tisu dan terkadang sebotol dua botol bir bintang. Kita merayakannya di atas tempat tidur sambil berkata bisik-bisik tanpa busana. Selamat tanggal sebelas.
Melewati sebelas tanggal sebelas tanpamu adalah siksaan neraka ke enam. Hanya ada pesan bertuliskan "apa kabar? " lalu berakhir diam.
Hari ini, aku tiba-tiba ingat ini hari apa dan kita sedang bersama. Aku tiba-tiba seperti dibenamkan masa lalu dan masuk ke neraka ke enam. Aku diam melihatmu, disampingku, berdiri, di bawah langit bendungan hilir.
Lima jam mendengarmu berdongeng tentang konstelasi politik. Berjalan kaki dari karet menuju benhil. Makan pecel ayam terenak di Jakarta hasil pencarian di internet. Menemanimu wawancara adik calon presiden. Menungguimu mengetik tumpukan berita demi loyalitas.
Kita sudah merayakannya bersama, tanpa kita sadari.
Kita masih selalu ada.
Tanggal sebelas Juli juga akan selalu ada.
Yang berbeda adalah, kita mau kemana?
Antasari. 11 Juli 2014