Sabtu, 22 November 2014

Om Ambon, Si Anak Angkat Kesayangan Ayah.

Aku baru saja bangun tidur saat adikku bercerita tentang Om Ambon yang anaknya akan lahir minggu ini. Om Ambon adalah anak angkat Ayahku, usianya mungkin 5-6 tahun lebih tua dariku tapi Ayahku dulu menyuruhku memanggilnya Om. Dia berasal dari Kupang, dia merantau ke Jakarta dan menjadi tukang parkir di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. Ayah mengijinkanya tinggal di rumahku bertahun-tahun.

Dari aku kecil, Ayahku memang hobi membawa orang tak dikenal untuk tinggal di rumah kami. Pernah sekali waktu  8 orang tinggal di lantai atas rumahku. Dulu tempat itu gudang lalu dialihfungsikan menjadi kamar tidur. Aku benci sekali sebenarnya keadaan seperti ini, rikuh. Mukaku masam di depan mereka. Berbagi rumah, berbagi makanan di meja makan, berbagi acara televisi, berbagi kamar mandi sampai Ayahku harus membuat septic tank  tambahan karena mampet adalah hal-hal yang sangat mengganggu privasiku.

Mereka hormat sekali pada Ayahku bahkan biarpun sudah tidak lagi tinggal di rumah. Mereka tinggal silih berganti ada yang akhirnya punya pekerjaan tetap lalu memilih punya kosan, ada yang menikah di kampung, menikah dengan mbak-mbak yang kerja di rumahku, atau kadang pergi saja tanpa alasan. Ayahku bilang tak ada salahnya membantu orang toh mereka bisa bantu-bantu di rumah. Aku sih tidak terlalu peduli saat itu. Makin banyak yang pergi aku makin senang. Bebas melakukan apa saja di rumahku sendiri.

Om Ambon adalah yang paling lama tinggal di rumah kami. Setiap pulang dari bekerja sebagai tukang parkir, dia akan membawakan kami satu bungkus Ayam Malaya yang dijual di dekat Gereja Theresia, Menteng. Kadang saya sms dia untuk bawa makanan-makanan lainnya seperti lumpia atau somay yang rasanya juga enak sekali. Lama-lama hubungan kami jadi lebih santai, mungkin karena Om Ambon juga sikapnya friendly dibanding yang lain. 

Dia anak angkat kesayangan Ayahku, kalau ayah sakit atau ada masalah, ayah selalu minta aku menghubungi Om Ambon. Laki-laki berkulit hitam itu memang sudah lama tidak tinggal bersama kami sejak kami memutuskan pindah dari rumah lama kami di kawasan Jatinegara. Dia tapi tidak pernah lupa menanyakan kabar kami.

 Kurang lebih setahun kami tidak dapat mengontak dia karena kami kehilangan nomor teleponnya. Saat Ayah akhirnya meninggal dunia awal tahun lalu, aku tidak bisa mengabarkannya. Pertengahan tahun lalu tiba-tiba ia menelponku. Aku berikan kabar buruk itu. Ia terdiam lama di seberang sana dan yang tadinya ceria menanyakan kabarku. Ia lalu sesunggukan karena menangis. Ia marah mengapa aku tak memberitahukan kabar itu segera. Mataku jadi berkaca-kaca, Ia pasti sama sedihnya denganku kan hitungannya Om Ambon juga anak Ayahku. 

Om Ambon sudah punya pekerjaan tetap sekarang jadi kepala keamanan di sebuah tempat di daerah Menteng. Kalau aku lewat Menteng, apalagi Gereja Theresia. Aku bebas makan semua jajanan di depan Gereja tanpa bayar sepeser pun. Semua ditraktir Om Ambon. " Kalau ada masalah atau butuh bantuan, kabarin aku ya Kak! kita harus saling bantu," ujar Om Ambon. 

Aku jadi berfikir, Ayahku baik juga ya sama orang. Dia menabung kebaikan pada banyak orang untuk investasi, orang-orang itu akan selalu menjaga aku dan adikku. Kebaikan Ayah pada orang lain adalah cara Ayah menjaga kami anak-anaknya biarpun Ia tak lagi kasat mata. 

"Kak, Om Ambon nikah loh Oktober nanti? lo bakal ke Kupang kan? Ditungguin loh. Oh, iya aneh juga ya dia masa anaknya lahir dulu baru nikah hahahaha," ucap Adikku saat aku masih mengucek mata karena baru bangun.

"Kita kapan makan bareng dia ya?, kalo kita lewat Menteng kita samperin yuk!. Minta traktir sekitar situ sekalian ngobrol-ngobrol. Kangen juga gw," ujarku, masih sambil mengucek mata.


Depok, 23 November 2014
4.06 PM

* Btw, menulis ini jadi kangen Ayah deh !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar