Kalau kau bilang kau benci dari ujung kaki sampai ujung
kepala, lalu masih saja peduli kalau dia cerita, apa itu namanya?
Namanya kau sedang menyangkal.
Ah, masa?
Aku bisa pastikan aku tak lagi mengeluarkan air mata ataupun
menyembunyikan mata yang berkaca-kaca. Aku pernah berjanji untuk tak
mengeluarkan kata tapi mendengar dia bercerita layaknya teman yang sudah
lama tak jumpa, aku tak bisa menyembunyikan tawa.
Lalu kami pun tertawa,
bersama..
Aku pernah enggan membalas pesan. Memasukkan ceritanya dari
kuping kiri lalu keluar di kuping kanan. Semuanya demi aku mau berjalan. Tapi
ia menarikku pelan-pelan dan membuatku merasa ada di dalam pelukan. Pelukan
yang sarat kenangan.
Tapi, aku tak mudah dibodohi biarpun kami sempat menjalani
kebodohan sekian lama. Aku sudah dengan lihai membalik rasa, mengurai lara,
menjaga kata, dan menelan mentah-mentah asa.
Apa yang kau rasa?
Aku sangat ingin menanyakan itu di depan matamu dalam jarak
sejengkal. Dalam jarak segitu pula kita pernah saling berperilaku binal. Lalu
sekarang kita kesal dan merasa tak saling kenal.
Aku pikir sekarang kau hanya seseorang yang lari dari satu
keramaian ke keramaian yang lain. Apa kau tak tahu bahwa aku sangat mengenalmu,
aku mencium wangi kesepian di dalam badan, Badanmu.
Kenapa kita tak duduk berhadapan, saling bertatapan dan
berkata
“Apa kita sedang terjebak kenangan? “ ,
“Kenapa kau masih saja mengirim pesan?” ,
“Kenapa aku masih menangguhkan kekesalan?”
“Apakah kau akan datang di masa depan?”
“Apakah kita akan selalu saling jadi batu sandungan?”
“Apa kau rindu kita tertawa di trotoar jalan?”
“Apakah kita akan mengulang kebodohan yang kita ciptakan?”
“Apakah kita akan saling menjauh sampai 100 tahun ke depan?”
Kau tidak sedang menyangkal?
Ah, masa?
Pengen nge-like tapi ga bisa, jadi komen aja.
BalasHapus