Akhir tahun 2013 yang lalu aku melalui sebuah perjalanan dari Cirebon, Solo, dan lalu kalau tak salah berakhir di Semarang. Paling melekat dalam ingatanku adalah pertemuanku dengan Kang Yadi mantan kenek metromini 75 jurusan Pasar Minggu - Blok M yang entah keberuntungan apa yang menghampirinya, sekarang ia menjadi salah satu pegawai di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Aku lupa-lupa ingat cerita tentang kisahnya terlempar di Cirebon dari Jakarta. Kalau tak salah, ia dengan hati tulus membantu mendorong mobil Sultan yang mogok di tengah Jalan. Keringatnya bercucuran tapi senyumnya yang selalu sumringah itu mungkin membuat Sultan berbaik hati dan memberikannya sebuah kartu nama dan sekilas tawaran, "Kamu mau kerja di Keraton?"
Dengan keberuntungan itu, ia jadi sadar harus bersyukur dan berbuat baik, salah satunya denganku yang tak kenal siapa-siapa di Cirebon. Ia mengenalkanku dengan para abdi dalem keraton, mengenalkanku dengan abdi sesepuh untuk bisa tinggal di rumahnya. Tidur dengan kamar tanpa dinding tak menyurutkanku untuk bersyukur di perjalanan ini.
Sejak perjalanan itu sampai hari ini, aku merasa berbuat baik adalah esensi dari kehidupan ini. Aku jarang bertemu orang jahat setelah perjalanan itu kecuali bos ku yang menularkan energi negatif setiap harinya sampai aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaan yang kusukai.
Lalu di Bulan Oktober 2014, aku melakukan perjalanan kembali. Dari Yogyakarta, Blitar, Ubud, sampai Gili Terawangan. Asing dan tak kenal siapa-siapa. Banyak yang terjadi selama 15 hari perjalanan darat yang aku lalui . Namun, aku hanya ingin bercerita tentang seseorang yang menyulut kepekaan hatiku kembali setelah hampir padam.
Khrisna namanya. Seorang lelaki berkulit coklat gelap, berbadan tinggi tegap, berambut gondrong dan memiliki senyum yang manis sekaligus berwibawa. Ia sama sekali tak mengenalku tapi kebaikannya mengikutiku di sisa perjalananku di Gili Terawangan. Segelas jus nanas, sepiring nasi goreng lezat ala restoran, satu kamar dengan kasur yang empuk dan besar, serta malam yang mengayunkan lagu-lagu Eagle, The Police, dan John Denver di sebuah cafe bernuansa Hawaii adalah kebaikan gratis yang ia berikan pada seorang asing sepertiku. Sesuatu yang tak bisa kubayar.
Aku meninggalkan Gili Terawangan dengan hati yang berbuih-buih, kepekaan hatiku seperti disulut, dipanaskan, oleh pertemuanku dengan lelaki baik ini. Aku menyebrang lautan dengan optimisme yang memuncak. Aku merasa harus membayarnya dengan caraku sendiri.
Dua turis asal Cina berdiri di sebelahku saat menunggu angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar. Mereka ingin ke Senggigi, ditunjukkannya sebuah alamat lengkap penginapan yang ingin mereka tuju. Bergantian kendaraan menawari mereka tumpangan dengan harga yang tak masuk akal. "Follow me, do you want to go to Senggigi with 80 thousand rupiahs?" Ujarku dengan bahasa inggris pas-pasan. Mereka mengangguk, itu harga termurah yang mereka dengar setelah lama berdiri di pinggir jalan. Aku tunjukkan kertas berisi alamat penginapan pada si supir, ia mengangguk tanda sepakat.
Mobil Carry karatan itu melaju menuju Pantai Senggigi, Gawat ternyata supir tak tahu dimana penginapannya. Ia berputar-putar tak tentu arah dan mulai menggerutu. Temanku sudah memegang GPS dan aku sibuk menranslate apa yang dibicarakan turis Cina itu kepada si supir. Aku akui penginapannya memang jauh dan masuk ke dalam pemukiman warga yang sulit dijangkau.
Kami sampai dan turun, supir meminta turis membayar 120 ribu. Turis memberinya 100 ribu dengan harapan ada 20 ribu yang akan sampai di tangannya. Si supir menyelonong masuk mobil. Aku tak suka keadaan ini, ia harus mengembalikan 20 ribu itu, kesepakatan dari awal sudah jelas dan alamat penginapan sudah disetujui dengan anggukan. Harusnya ia tahu jalan. Aku mendebatnya di bawah matahari Senggigi yang terik. Di kepalaku saat itu, berseliweran wajah Mas Khrisna dan kebaikannya aku merasa bisa membayarnya dengan mengembalikan 20 ribu ini ke turis tadi. Setelah lama berdebat, supir tadi mengeluarkan 20 ribu dengan muka masam, aku menyambarnya dan memberikan pada pasangan turis Cina itu, aku disambut dengan salaman dan kata terimakasih yang sampai hari ini tak bisa kulupakan rasanya.
Aku membayar kebaikan Mas Khrisna dengan memberikan kebaikan pada orang lain. Aku pulang ke Jakarta dengan membawa sebuah bekal yang berarti, sebuah pelajaran bahwa tak ada alasan kita untuk tak menjadi orang baik hati.
Itu saja,
Manggarai 16 Oktober 2014
Di dalam kereta 8.05 PM