Jumat, 31 Januari 2014

Sudah Dua Puluh Lima Tahun



Tadi malam aku memutuskan bertemu sahabat lama, kami menghabiskan waktu bercakap-cakap di sebuah cafe retro di dalam hotel di bilangan Gondangdia. Ia meminum mocktail bernuansa hawaii dan aku menyeruput segelas tinggi green tea latte. Namun, yang penting bukan itu, melainkan obrolan kami berjam-jam tentang  “Sekarang kita sudah jadi apa?”

Ia adalah sahabatku ketika berumur 13 tahun, di umur 15 tahun kami pernah melakukan sebuah percakapan tentang,

“Di umur 25 tahun kita bakalan kayak gimana ya?”
Semua rencana dan impian meluncur dari kepala kami,

“Gw bakalan jadi wanita karir, punya apartemen sendiri, mandiri”

“Kira-kira kita bakal ML sebelum menikah gak ya? Kayaknya gw iya deh,”

“ Gw bakalan nikah di umur 27 tahun atau gak 30 tahun. “

Di umur semuda itu kami sudah menjadi cikal bakal perempuan bebas dan ambisius.

Setelah bertahun-tahun kami lalu bertemu. Ia dengan rok mini dan gaya perempuan chic jaman ini, ia masih sama, laki-laki masih selalu melihatnya dari kepala sampai kaki, kali ini lelaki bule yang kami temui melempar senyum padanya “Gw mau punya suami bule,” ujarnya ketika  baru saja duduk di sebuah sofa panjang. Aku masih dengan kaos, celana jins, tumpukan kalung dari nias dan kalimantan dan sepatu boot. Kami tidak pernah berubah.

“Kita pasti tidak seakrab dulu”

“Kenapa sih lo pesimis banget, kalo gak dipaksain hari ini bertemu kapan lagi?”

“Hari Selasa gw umroh”

“Lo anaknya solat banget dong ya sekarang?”

“Gak juga, tapi gw mau mencari jalan kehidupan gw”

“ So,usia kita tahun ini 25, apa yang sudah terjadi dalam hidup lo?”

Ia mulai bercerita, bahwa di usianya ke 25 ia belum tahu kemana arah hidupnya, bahkan ia butuh pergi ke Mekkah, Madinah, dan mencoba beribadah di Israel ditemani pemandangan puluhan tentara bersenapan laras panjang di sekitarnya.

“Nyokap nyuruh gw ngerasain gimana rasanya toleransi dan tertekan di Israel dan negara-negara konflik di sekitarnya, jadi setelah umroh gw akan ke Israel, Syiria, dan Lebanon, sendirian.”

Dalam pikiran gw, perempuan secantik ia dan dulunya sangat mandiri itu tidak mungkin kebingungan di usia 25 tahunnya ini, nyatanya ia tidak tahu arah. Ia bekerja tiga bulan  di sebuah perusahaan asing dengan gaji diatas rata-rata, Ia lulusan teknik kimia Universitas Negeri, Ia cantik dan fashionable, tapi ia tetap tak tahu ingin jadi apa. Ia resign dan sedang galau.

“Mimpi itu ada expired date nya, gw apply pekerjaan ke banyak negara tapi gak satu pun nerima gw, gw hopeless

Aku patut berbangga hati kali ini, di usiaku ke 25 tahun setidaknya aku sudah tahu ingin jadi apa dan sudah kujejakkan kakiku di jalan yang tepat. Aku mulai bercerita tentang keberhasilanku bertahan pada mimpiku tentang karir padanya.

“Setelah membuat skripsi tentang seni rupa gw punya mimpi berkarir di bidang ini, hampir lima bulan gw kelaperan karena sengaja menolak pekerjaan yang bukan seni rupa, banyak orang bilang gw gila”

Sekitarku mulai menggoncangkan tubuhku dengan kata-kata “lo gak realistis bi”. Entah kenapa perasaan yakin ini terlalu kuat untuk dipindahkan. Saat itu rasanya, mimpiku sedang berjalan ke arahku dan aku hanya perlu menunggunya datang, tak lama, tapi sayang tak ada yang percaya. Banyak sudah yang kukorbankan, keluarga, hubungan cinta, kesehatan, demi mimpi yang dinilai absurd dan hampir membuatku menyerah. Tawaran pekerjaan terus saja datang tapi tanganku tetap melambai.

Aku kehilangan semuanya saat itu, semua.

Aku menyerah, aku kirimkan sebuah surat lamaran ke majalah musik. Setelah menonton Almost Famous, jenis pekerjaan jurnalistik yang ingin aku kerjakan hanya sebagai jurnalis musik lebih dari itu tak ada lagi yang menarik. Aku dipanggil, beberapa wawancara aku lewati. Bodohnya, aku memilih tidak tidur sebelum wawancara dan saat sampai ke kantor untuk wawancara terakhir dengan pimpinan redaksinya yang penggemar berat Metallica itu, aku masih kena efek “basian” sisa semalam.

“Kamu suka nonton film?”

“Tidak pak, saya tidak suka bioskop, gelap dan sempit”

“Kamu suka musik?”

“ Tidak....” (ini jawaban super tolol untuk seseorang yang sedang melamar di majalah musik!)

Hidupku tak cepat sial ternyata, ia izinkan aku menulis beberapa artikel di majalah itu, tapi aku memilih untuk sadar bahwa ini bukan mimpiku.

Aku kembali kelaparan..        
         
“Lo mau jadi apa sih?” ujar seorang teman

“ kurator seni rupa muda kenamaan..”

“Ada pameran fotografi di Erasmus, kuratornya kayaknya namanya sering lo sebut-sebut, lo mau bantuin?”

“MAU!”

Dan semesta terus menantang kesabaranku untuk bertahan. Aku tukar pekerjaanku seharga sejuta semalam demi menemui kurator itu di Kuningan, sekedar kenalan pikirku. Tapi sampai malam ia tak kunjung datang. Rasanya mulai sia-sia.

Esoknya aku datang lagi, menuggu sampai malam, batang hidung kurator senior itu tak kelihatan. Harapanku mulai berangsur pupus. Kami sudah mulai berbenah dan ia muncul. Aku dikenalkan sebagai lulusan filsafat dengan skripsi tentang kritikku pada pasar seni rupa, senyumku sudah mengembang, hidungku juga.
Tapi, matanya tak sama sekali melihatku, terdengar satu kata saja

“ooh..”

Lalu ia pergi dan mulai mengatur tata letak pameran. Aku bagai sebuah bongkahan es batu, yang diketok palu dan hancur berkeping-keping. Sial.

Esoknya, pembukaan pameran akan dimulai. Aku hanya melihat ia datang dan tak sedikit aku mengangkat wajahku untuk menatapnya. Ia tergopoh-gopoh karena belum membuat presentasi untuk pameran. Ia hanya bisa menatap sebuah layar laptop berformat windows. Beberapa menit lagi ia harus bicara di depan puluhan orang. Aku menghampirinya.

“ Ada yang bisa saya bantu pak?”

“ Saya harus buat presentasi, tapi saya gak bisa pake windows, bisa bantu saya?”

Aku di depan layar laptop, 30 menit kami lalui dengan saling melontarkan kata untuk merumuskan ide dan deskripsi di tiap halaman presentasi. Dan selesai. Aku sudah mengirim datanya ke flashdiskku dan berlari ke operator untuk memutarnya seraya sang kurator menjelaskan isinya di depan para penggemar foto dan sejarah itu.

“ Siapa nama kamu?”

“Erby,  pak”

“Kamu boleh kirim cv kamu ke email saya, tapi belum tentu saya terima ya”

“Gak apa-apa pak, yang penting saya bisa kirim email ke bapak.”

Hatiku mau meledak, senyumku melebar, sepertinya sampai mengitari kepalaku sendiri.
Teman-temanku terkejut, mereka bahkan hampir tidak percaya bahwa mimpiku yang gila itu sudah ada di depan mata, bahwa pengorbananku berbuah manis. Bahwa apa yang kupertahankan tanpa alasan itu memang eksis, memang ada, dan aku tidak sedang berandai-andai bukan?

Tapi kebahagiaan ku tak berlangsung lama, setelah mengirim email, tak ada panggilan satu pun. Berminggu-minggu dan sudah satu bulan aku tanpa kepastian dan tanpa uang. Tawaran kerja di Ubud membuatku rasanya ingin sekali pergi menjauh, mungkin aku akan belajar seni rupa di Ubud. Rasanya tak ada lagi yang kutuju dan ingin kulakukan , Tuhan pasti akan membawa tubuhku pada tujuanNya yang lebih baik dan aku tak tahu apa-apa. Oke, aku ikuti permainanmu.

Sebelum bilang “Ya” pada Kota Ubud, kupasrahkan nasibku sekali lagi pada Tuhan. Aku kirimkan dua email, satu ke Ubud dan satu lagi pada kurator itu. Dalam hatiku, aku berucap, siapa yang pertama membalas email ini, padanya aku akan menuju.
Tiga menit kemudian sebuah balasan email masuk,
Saat itu aku membacanya di bawah hujan deras tanpa payung, bajuku sudah basah kuyup. Tanganku sudah mau beku saat membuka inbox email di handphoneku,

“Saya sudah terima emailmu sampai dua kali, saya sedang menyusun sistem kerja kita, kamu bisa datang ke kantor minggu depan bicara tentang jobdesk dan gaji?”

Aku sama sekali tak peduli air hujan sudah membasahi rambut dan wajahku. Malam itu aku merasa Tuhan selalu membukakan jalannya saat kita tahu jalan mana yang mau kita tuju, dan seberapa besar kita menginginkan jalan itu.

“Gw kerja jadi Kordinator Art Project gtu, gw kerja dikelilingi ribuan lukisan dari realis sampe kontemporer, kemaren gw dikasih kesempatan kurasi satu pameran tunggal seorang seniman di Kemang, lo mau dateng ?” Ujarku saat sabahat lama ku itu bertanya,

“Sudah dua puluh lima tahun, lo sudah jadi apa?”