"Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.
Matahari memang tidak pernah merasa berbuat sesuatu dalam urusannya dengan pohon dan bunga..."
Aku tak tahu persis apakah cuplikan puisi diatas adalah deret kata dalam puisi yang sama karya Sapardi Djoko Damono. Judulnya aku lupa dan aku malas mencari di internet karena sinyalnya naik turun. Tapi kata-kata diatas indah dan manis. Ia bercerita tentang matahari yang tak pernah pamrih dan tak pernah marah.
Mengingat matahari menurutku selalu identik dengan datang dan pergi. Ia datang lalu pergi. Ada yang begitu menanti, ada juga yang tak terlalu peduli. Matahari yang membawa siang dan mengantarkan malam itu toh selalu hadir sampai mitos terompet sangkakala akan terdengar berbunyi kencang, entah kapan, yang pasti dunia sekitarmu akan terus-menerus malam dan jutaan partikel pasir beterbangan memenuhi pandangan, tenggorokan, sampai menyesak ke paru-paru.
Aku baru saja kedatangan seorang sahabat lama yang menelponku di tengah padatnya pekerjaan, nomor telpon tak dikenal, suara yang samar-samar terlupa, sampai terpaksalah aku bilang "Hmm, ini siapa ya?" .
Kami lalu janjian di tempat minum kopi di Kalibata. Ia pergi tiga tahun lalu dengan begitu banyaknya masalah dalam hidupnya. Hari ini dia kembali mengumpulkan sembilan sahabatnya dan berkata "Hidup gw sudah baik-baik saja" . Siapa bilang selama tiga tahun ditinggal tanpa kabar kami tak kesal. Kami sampai memilih diam karena saking kesalnya mencari kabar ia darimana-mana. Tapi, toh kami datang kembali biarpun perasaan sedikit kesal itu masih ada, salah satu dari kami lalu bertanya di tengah keheningan malam itu, "Lo pernah kangen kita gak sih? Lo pernah pengen tahu kabar kita kayak kita yang pengen tahu kabar lo?" . Akhirnya pertanyaan itu keluar juga ditengah tawa-tawa nostalgia kami.
Semua diam menunggu jawaban, "Gw selalu nanya kabar kalian lewat temen yang dateng ke rumah gw, gw tahu udah terlalu lama pergi, gw gak enak dateng lagi."
Sahabat tidak pernah pergi semudah itu. Kami masih di tempat yang sama, menunggunya menyapa kami kembali.
Temu Kangen
Phoenam Cafe 23 Agustus 2014.
Untuk Rendy, sahabat kami...