Kalau aku sedih , aku memilih berjalan kaki sejauh yang
kubisa.
Sambil berjalan air mataku menetes. Untungnya tak ada yang lihat.
Aku ingin lelah sampai rumah sampai lupa untuk menangis.
Tidur dan melakukannya esok lagi.
Kakiku sakit, hatiku juga. Orang lebih suka melihatku
tertawa jadi aku tak punya tempat menangis kecuali di jalan-jalan sepi itu.
Kakiku sedikit cacat jadi jalanku tak seimbang. Saat Jalan
jauh, telapakku perih. Siapa peduli? Untungnya tak ada yang lihat.
Bertahun-tahun lalu, saat kesedihan tiba, aku jalan kaki dari Bintaro ke Stasiun Palmerah, dari Margonda Raya
ke Depok Baru, dari Dharmawangsa ke Jembatan Antasari.
Sekarang, aku mengitari bekas kampusku tiap malam. Tiap
pulang kerja, agar aku bisa puas menangis lalu tidur dan melakukannya esok
lagi.
Saat aku menikmati ini semua, aku tahu aku sedang sangat
sedih.
Depok, 2 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar